Gi-media.com Jakarta, 24 Juli 2025 – Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID mempertegas perannya sebagai lokomotif hilirisasi mineral nasional dengan target ambisius:
memperkuat kapasitas produksi aluminium nasional hingga 900 ribu ton per tahun (KTPA) pada 2029.

Angka ini melonjak tiga kali lipat dari kapasitas terpasang saat ini sebesar 275 ribu KTPA.
Langkah ini bukan sekadar strategi bisnis, melainkan investasi masa depan bangsa.
Konsumsi aluminium domestik diperkirakan naik 600% dalam tiga dekade ke depan,
didorong ekosistem industri kendaraan listrik (EV), baterai, dan panel surya.
Satu battery pack EV rata-rata mengandung 18% aluminium, sementara satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 1 MW membutuhkan 21 ton aluminium.
Hilirisasi & Ekonomi Nasional
MIND ID, melalui PT Indonesia Asahan Aluminium (INALUM), sedang mempersiapkan pembangunan smelter aluminium baru di Mempawah,
Kalimantan Barat, dengan kapasitas produksi 600 KTPA.
Digabung dengan fasilitas eksisting, total kapasitas produksi aluminium nasional akan menyentuh 900 KTPA pada 2029.
Di hulu, pilar pasokan bahan baku diperkuat dengan beroperasinya Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I berkapasitas 1 juta ton per tahun. Untuk menjamin kesinambungan suplai, SGAR Fase II tengah dipersiapkan dengan tambahan kapasitas 1 juta ton.

PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) juga membangun fasilitas washed bauxite 1,47 juta ton per tahun, memastikan rantai pasok hulu–hilir terkoneksi.
Green Mining & Keberlanjutan
Kunjungan Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, ke SGAR Mempawah menjadi momentum evaluasi sekaligus penegasan komitmen terhadap operational excellence.
Maroef menekankan bahwa ekspansi ini tidak sekadar mengejar volume, melainkan memastikan keberlanjutan operasi, efisiensi energi, serta penerapan standar kelas dunia.
Integrasi rantai pasok aluminium di Mempawah mengedepankan konsep green mining: tata kelola ramah lingkungan, teknologi bersih, serta manajemen energi berkelanjutan.
“Bauksit, alumina, dan aluminium adalah bahan baku krusial yang harus dikelola dengan tanggung jawab agar industrialisasi kita berdaulat,” ujarnya.
TJSL & Dampak Sosial
Pembangunan fasilitas di Mempawah tidak berdiri sendiri.
MIND ID menegaskan bahwa proyek strategis akan memperhatikan keberlanjutan sosial.
Dari pendidikan, kesehatan, hingga pemberdayaan UMKM lokal, program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menjadi penghubung antara industri besar dengan masyarakat sekitar.
Transformasi ini diharapkan menumbuhkan nilai ekonomi baru bagi daerah operasional,
sehingga pembangunan nasional berbasis sumber daya alam benar-benar menghadirkan manfaat sosial.
Transformasi Digital & Inovasi
Selain pembangunan fisik, MIND ID mendorong transformasi digital dalam seluruh rantai bisnis.
Pendekatan ini tidak hanya mengurangi biaya operasional, tetapi juga memperkuat smart mining dan smart smelter.
Pemanfaatan big data dan predictive maintenance memastikan reliability setiap fasilitas tetap adaptif dengan dinamika pasar global.
Investigasi Data: Jarak Suplai dan Permintaan.
Data menunjukkan kebutuhan aluminium nasional mencapai 1,2 juta ton per tahun, jauh melampaui suplai domestik saat ini.
Gap inilah yang ditargetkan untuk dipersempit lewat integrasi hilirisasi
MIND ID. Dengan 900 ribu KTPA pada 2029, ketergantungan impor aluminium diharapkan menyusut drastis.
Proyeksi kebutuhan yang melonjak enam kali lipat juga menguatkan urgensi hilirisasi.
Tanpa kemandirian pasokan, Indonesia berisiko menjadi pasar pasif bagi produk luar negeri, padahal cadangan bauksit nasional berada di peringkat besar dunia.
Visi Masa Depan
“Penguatan ekosistem hilirisasi aluminium ini merupakan investasi untuk masa depan bangsa. Kita harus mengelolanya dengan profesionalisme dan semangat transformasi,” tegas Maroef.
Dengan pendekatan holistik—mengintegrasikan hulu hingga hilir, teknologi hingga sosial, investasi hingga keberlanjutan—
MIND ID berupaya menjadikan Indonesia sebagai produsen aluminium berdaulat yang menopang transisi energi, industrialisasi nasional, dan daya saing global.























Discussion about this post