Abadi Masela: Dari Laut Maluku, Energi untuk Negeri
Di ujung timur Indonesia, tepatnya di perairan Laut Arafura, terbentang sebuah potensi energi yang kini menjadi harapan besar bangsa: Lapangan Abadi Blok Masela. Gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) yang tersimpan di kedalaman laut itu akan menjadi bahan bakar penting dalam mewujudkan swasembada energi nasional.
Pada 28 Agustus 2025, Pemerintah secara resmi memulai tahap Front-End Engineering and Design (FEED). Inilah langkah awal menuju operasional penuh pada 2029, saat proyek senilai USD 20,94 miliar itu diperkirakan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, serta 35 ribu barel kondensat per hari.
Visi Energi untuk Berdiri di Atas Kaki Sendiri
Bagi Pemerintah, Masela adalah simbol kemandirian energi. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (Wamen ESDM) Yuliot menegaskan, proyek ini menjadi salah satu pilar ketahanan energi sekaligus motor pembangunan daerah dan nasional.
“Proyek ini harus menjadi bagian dari strategi bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri, serta menyediakan energi bagi seluruh kegiatan ekonomi. Ekosistem gas yang terbentuk akan mendorong pengembangan industri secara luas,” ujar Yuliot dalam peresmian fase FEED.
Pernyataan Yuliot itu sejalan dengan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, yang menempatkan swasembada energi sebagai fondasi pembangunan.
Infografis

Suara dari Maluku: Harapan dan Tantangan
Namun di balik megahnya angka investasi dan produksi, proyek ini juga menghadirkan cerita-cerita kecil dari masyarakat Maluku.
Bagi Paulus Rahakbauw (47), seorang nelayan dari Saumlaki, kabar dimulainya proyek Masela adalah kabar baik sekaligus harapan baru.
> “Kalau ada proyek besar, pasti banyak orang datang. Itu artinya ada pembeli ikan lebih banyak, ada rejeki tambahan. Kami berharap nelayan bisa ikut terlibat, tidak hanya jadi penonton,” katanya.
Sementara itu, Martha Lewerissa (38), pemilik warung makan di sekitar Tanimbar, melihat peluang usaha yang akan terbuka.
> “Kalau ribuan pekerja datang, pasti butuh makan, minum, tempat tinggal. Kami orang kecil bisa ikut berjualan. Semoga pemerintah kasih kesempatan orang lokal lebih dulu,” ujarnya.
Dari sisi adat, Petrus Latbual (55), tokoh masyarakat Tanimbar, menekankan pentingnya menjaga harmoni antara pembangunan dan budaya lokal.
> “Tanah dan laut bagi kami bukan hanya sumber hidup, tetapi juga warisan leluhur. Kami mendukung Masela, asalkan tetap menghormati adat dan lingkungan,” ucapnya.
Kutipan-kutipan ini memperlihatkan bagaimana Blok Masela menjadi cerita besar yang merambat ke dapur, perahu, dan rumah-rumah kecil di Maluku.
Dampak Ekonomi dan Rantai Pasok Lokal
Menurut Kementerian ESDM, proyek Abadi Masela diproyeksikan menyerap 12.611 tenaga kerja pada fase pengembangan dan 850 tenaga kerja pada fase operasi. Selain itu, rantai pasok industri yang terbentuk akan membuka ruang bagi pengusaha daerah untuk ikut berperan.
“Multiplier effect dari proyek ini harus benar-benar terwujud. Masyarakat lokal akan mendapat manfaat langsung, baik melalui lapangan pekerjaan, peningkatan keterampilan, maupun pemberdayaan pengusaha daerah,” tegas Yuliot.
Bagi Albert Pattimura (29), pengusaha muda di bidang logistik lokal, kehadiran Masela adalah kesempatan emas.
> “Kami siap ikut jadi bagian dari rantai pasok. Anak-anak muda Maluku bisa belajar banyak, tidak hanya soal bisnis, tapi juga teknologi energi,” katanya.
Energi yang Ramah Lingkungan
Pemerintah memastikan, Abadi Masela tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada keberlanjutan. Proyek ini dirancang dengan standar lingkungan tinggi, termasuk penerapan Carbon Capture & Storage (CCS) untuk menekan emisi karbon.
“Indonesia harus membuktikan bahwa pengembangan sumber daya alam bisa berjalan seiring dengan tanggung jawab lingkungan. Melalui CCS, proyek ini menjadi bagian dari strategi menuju Net Zero Emission 2060,” ujar Yuliot.
Bagi masyarakat Maluku yang hidup dekat laut, komitmen ini penting. “Kalau laut tercemar, kami yang pertama kali merasakan dampaknya. Jadi kami senang dengar ada teknologi yang bisa jaga lingkungan,” kata nelayan Paulus menambahkan.
Energi untuk Negeri, Warisan untuk Generasi
Cadangan gas bumi sebesar 10,7 TCF yang tersimpan di Masela adalah harta energi yang harus dikelola bijak. LNG dari Blok Masela akan menjadi tulang punggung energi nasional, mengurangi ketergantungan impor, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai eksportir energi di kawasan.
Namun lebih dari itu, bagi masyarakat Maluku, Blok Masela adalah simbol perubahan: dari wilayah yang jauh dari pusat ekonomi, menjadi bagian dari cerita besar energi bangsa.
Di atas perahu nelayan, di warung makan kecil, hingga ruang rapat kementerian, semua sepakat bahwa energi dari Maluku adalah energi untuk negeri. Energi yang tidak hanya mengalir ke pipa dan kapal LNG, tetapi juga mengalir ke mimpi generasi Indonesia untuk berdiri di atas kaki sendiri.
























Discussion about this post