Dirut PT Agrinas Pangan Nusantara Mundur: Alasan di Balik Kebuntuan Proyek Swasembada Pangan dan dilema yang dihadapi perusahaan bunm,
Gi-media.com Jakarta Keputusan mengejutkan datang dari dirut pt agrinas pangan nusantara yang baru enam bulan menjabat sebagai Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara.
Dalam surat resmi pengunduran dirinya dirut pt agrinas pangan nusantara yang sudah disampaikan kepada Danantara,
Dirut pt agrinas nusantara mengungkap serangkaian hambatan struktural yang membuatnya merasa tak mampu berkontribusi pada target strategis Presiden Prabowo Subianto untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.
Beliau menyebut, selama masa jabatannya, ia menghadapi proses administrasi yang rumit, bertele-tele, dan tanpa dukungan memadai dari pihak internal maupun eksternal perusahaan.
Hambatan tersebut, menurutnya, menjadi tembok besar yang menghalangi langkah konkret dalam menggerakkan program ketahanan pangan.
“Keseriusan Presiden dalam mendukung upaya kedaulatan pangan ini tidak diikuti sepenuhnya oleh stakeholder dan pembantu-pembantunya. Kami tidak mendapat dukungan maksimal,
termasuk soal anggaran. Sampai hari ini, Agrinas Pangan Nusantara masih di titik nol,” ungkap Joao dalam pernyataannya.
Enam Bulan Tanpa Aksi Nyata
PT Agrinas Pangan Nusantara, yang berada di bawah pengawasan Danantara, memiliki mandat strategis: mendorong kedaulatan pangan sebagai bagian dari program prioritas nasional.
Namun, menurutnya, enam bulan masa kepemimpinannya justru dihabiskan untuk menembus prosedur birokrasi yang panjang tanpa progres signifikan di lapangan.
Ketiadaan alokasi anggaran yang memadai dan minimnya dukungan dari pemangku kepentingan membuat proyek-proyek yang telah direncanakan tidak pernah beranjak dari tahap konsep.
Hal ini, ujar dirut pt agrinas pangan nusanatara, menjadi alasan fundamental dirinya memilih mundur.
Permintaan Maaf kepada Presiden
Dalam pernyataan pengunduran dirinya, secara terbuka meminta maaf kepada Presiden Prabowo Subianto.
Ia mengakui, masalah pangan adalah isu strategis dan mendesak, terlebih di tengah tantangan global terkait rantai pasok dan perubahan iklim.
“Saya berterima kasih atas kepercayaan Presiden, namun dengan kondisi seperti ini,
saya tidak mampu memberikan hasil sesuai mandat. Masalah pangan adalah urgensi nasional yang seharusnya segera dieksekusi, bukan terhambat,” tegasnya.
Sinyal untuk Pembenahan Sistem
Pengunduran diri dirut pt agrinas itu memberi sinyal adanya masalah struktural yang lebih dalam di tubuh proyek swasembada pangan.
Sumber internal yang ditemui tim redaksi mengindikasikan bahwa hambatan koordinasi lintas lembaga, tarik ulur kewenangan,
dan mekanisme persetujuan anggaran yang lamban menjadi faktor yang kerap memperlambat eksekusi program.
Pengamat kebijakan publik menilai, jika pernyataannya benar adanya,
maka ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan proyek strategis pangan.
Tanpa pembenahan, target ambisius swasembada pangan yang diusung Presiden Prabowo berisiko tinggal wacana.
Masa Depan Agrinas Pangan Nusantara
Dengan mundurnya dirut tersebut, kursi pimpinan Agrinas kini kosong.
Pemerintah melalui Danantara diperkirakan akan segera menunjuk pelaksana tugas (Plt) atau direktur baru untuk melanjutkan mandat yang telah diberikan.
Namun, siapapun penggantinya, tantangan yang dihadapi akan tetap sama: menembus hambatan birokrasi dan mengamankan dukungan penuh,
baik anggaran maupun kebijakan, demi percepatan kedaulatan pangan Indonesia.























Discussion about this post