Laut Identitas Kita, Cerita dan Budaya Kita
Laut Sebagai Nadi Kehidupan
Laut bukan hanya pemisah daratan, melainkan penghubung kehidupan. Bagi Indonesia dengan lebih dari 17 ribu pulau (BPS, 2024), laut adalah identitas kolektif bangsa. Ia menghubungkan manusia, budaya, ekonomi, bahkan harapan.
Di balik ombak dan pelabuhan, ada kisah rakyat kecil yang hidupnya bertumpu pada layanan penyeberangan. Ferry yang dioperasikan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) menjadi “urat nadi” yang menjaga mobilitas, ketersediaan pangan, sekaligus keberlanjutan budaya.
“Kalau tidak ada ferry, hasil bumi kami sulit keluar. Dengan ferry, kami bisa menjual kelapa dan ikan ke pulau lain,” kata Syarifudin (48), petani kelapa dari Ternate, Maluku Utara.
Identitas Budaya di Dermaga
Setiap lintasan ferry menyimpan cerita budaya.
Di Ketapang–Gilimanuk, ribuan orang menyeberang setiap hari. Mereka membawa bukan hanya kendaraan, tapi juga tradisi Jawa dan Bali yang bertemu di ruang tunggu pelabuhan.
Di Merak–Bakauheni, titik sibuk di Selat Sunda, pertemuan antara masyarakat Banten dan Lampung melahirkan ragam kuliner lintas pulau yang kini menjadi identitas dagang UMKM setempat.
Di Ternate–Tidore, ferry menjaga kesinambungan ritual adat dan perdagangan rempah yang sudah berabad-abad.
Menurut Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (2024), 65% wisatawan domestik di wilayah timur Indonesia bergantung pada ferry. Tanpa konektivitas maritim, pariwisata budaya lokal terancam terputus dari arus ekonomi nasional.
Data Konektivitas Maritim
Menurut catatan Kementerian Perhubungan (Ditjen Perhubungan Darat, 2024):
Ada 333 lintasan penyeberangan di Indonesia.
ASDP mengoperasikan lebih dari 40 lintasan strategis.
Layanan ini menopang mobilitas lebih dari 300 juta penumpang per tahun.
Angka tersebut bukan hanya statistik transportasi. Di baliknya, ada keberlangsungan pasokan logistik pangan, hasil bumi, dan ikan tangkapan laut. Tanpa ferry, harga beras, ikan, dan bahan pokok di daerah kepulauan bisa melonjak.
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menegaskan: “Transportasi laut, termasuk ferry, menentukan rantai pasok hasil laut. Tanpa akses cepat, nelayan rugi karena ikan cepat rusak,” ujar Dirjen Tangkap KKP, 2024.
Lingkungan: Menjaga Laut, Menjaga Identitas
Laut adalah identitas kita, dan menjaganya berarti menjaga keberlangsungan hidup.
Sepanjang 2024, ASDP menyalurkan dana TJSL Rp 8,1 miliar. Porsi terbesar, Rp 4 miliar, dialokasikan untuk lingkungan.
Beberapa langkah nyata:
Pengurangan emisi karbon 123.093 ton CO₂e melalui efisiensi operasional kapal.
Rehabilitasi pesisir dengan penanaman 50 ribu bibit mangrove di Labuan Bajo, Kupang, dan Merak.
Program Reverse Vending Machine (RVM) di pelabuhan besar yang mengumpulkan 1,72 ton sampah plastik atau setara 92.334 botol, menyelamatkan 1.458 m² ruang lingkungan dan menekan emisi karbon 9.000 kg.
“Dulu pantai kami terus terkikis. Setelah ada mangrove, udang-udang kecil kembali. Itu berarti laut sehat lagi,” tutur Markus Talan (51), nelayan Kupang.
Langkah ini sejalan dengan target KLHK untuk merehabilitasi 600 ribu hektar mangrove hingga 2030.
Ekonomi Rakyat: UMKM Naik Kelas
ASDP juga menyalurkan Rp 3,1 miliar untuk pilar sosial dan Rp 943 juta untuk pilar ekonomi. Salah satu program inovatifnya adalah Vending Machine UMKM, yang dipasang di pelabuhan untuk memasarkan produk lokal.
Di Banyuwangi, perajin bambu seperti Siti Rohmah (42) kini bisa menjual produknya ke wisatawan yang menyeberang. “Produk kami tidak hanya dikenal di pasar lokal, tapi juga dibawa penumpang hingga Denpasar,” ujarnya.
ASDP juga membantu penerbitan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk UMKM binaan, memberi perlindungan hukum agar produk lokal bisa bersaing di pasar global.
Perspektif Pemerintah
Wakil Menteri BUMN, Kartika Wirjoatmodjo, menegaskan:
“BUMN harus hadir bukan hanya untuk profit, tapi untuk rakyat. ASDP adalah contoh bagaimana konektivitas maritim bisa menjadi sarana pemberdayaan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan.”
Pernyataan ini sejalan dengan kebijakan TJSL Prioritas BUMN yang mencakup tiga pilar utama: pendidikan, lingkungan, dan UMK.
Cerita Kita, Cerita Indonesia
Dari nelayan Kupang yang lautnya kembali subur, perajin Banyuwangi yang produknya melintasi Bali, hingga festival budaya di Ternate yang hidup karena konektivitas ferry—semua adalah fragmen cerita besar Indonesia.
ASDP, dengan tagline “Bangga Menyatukan Nusantara”, bukan hanya operator ferry. Ia adalah penjaga identitas bangsa. Identitas yang berakar pada laut, tumbuh bersama budaya, dan diarahkan pada keberlanjutan.
Penutup
Laut adalah identitas kita.
Budaya adalah cerita kita.
Dan ferry adalah penghubung yang memastikan keduanya tetap hidup.
Dengan Transformation for Growth, ASDP membuktikan bahwa konektivitas maritim bukan sekadar mobilitas, tetapi juga kontribusi nyata untuk rakyat, lingkungan, dan masa depan Indonesia.
Laut identitas kita, cerita dan budaya kita. Cerita Kita, Cerita Indonesia.
























Discussion about this post