Gi-media.com Jakarta, 20 Agustus 2025 Bank Indonesia (BI) memastikan stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga di tengah dinamika global. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menegaskan, inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Juli 2025 tetap rendah di level 2,37 persen (yoy). Inflasi inti menurun menjadi 2,32 persen (yoy), inflasi volatile food terkendali di 3,82 persen (yoy), sementara inflasi administered prices justru turun ke 1,32 persen (yoy).
“Terjaganya inflasi ini didukung konsistensi kebijakan moneter, kecukupan pasokan pangan domestik, harga pangan global yang relatif rendah, serta sinergi pengendalian inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP–TPID),” jelas Perry.
Investigasi: Kredit Perbankan Melambat di Tengah Likuiditas Longgar
Meski inflasi terjaga, pertumbuhan kredit perbankan pada Juli 2025 hanya tumbuh 7,03 persen (yoy), melambat dibandingkan Juni 2025 yang mencapai 7,77 persen (yoy).
Dari sisi penawaran, bank masih berhati-hati meski suku bunga turun dan likuiditas longgar. Banyak bank menempatkan kelebihan likuiditas pada instrumen surat berharga ketimbang menyalurkan kredit baru.
Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 7 persen (yoy), memperluas ruang likuiditas, tetapi belum mendorong akselerasi kredit.
Dari sisi permintaan, kredit masih ditopang sektor pertambangan, perkebunan, transportasi, industri, hingga jasa sosial. Namun, pelaku usaha secara umum masih mengandalkan pembiayaan internal.
Kredit konsumsi hanya naik 8,11 persen (yoy), kredit modal kerja 3,08 persen (yoy), sementara kredit investasi justru mencatat kenaikan signifikan 12,42 persen (yoy).
Adapun pembiayaan syariah tumbuh 8,31 persen (yoy), namun kredit UMKM hanya menyentuh 1,82 persen (yoy) – angka yang relatif rendah mengingat peran UMKM sebagai tulang punggung ekonomi nasional.
Analisis Jurnalistik: Apa Tantangan Utama?
1. Penyaluran Kredit Ketat
Bank lebih memilih instrumen aman dibanding ekspansi kredit, menunjukkan sikap konservatif di tengah ketidakpastian global.
2. Permintaan Lemah
Dunia usaha belum sepenuhnya pulih, banyak perusahaan masih mengandalkan modal internal.
3. UMKM Tertinggal
Padahal UMKM adalah tulang punggung perekonomian Indonesia, tetapi akses pembiayaan masih terbatas.
4. Risiko Global
Fluktuasi harga komoditas dunia dan dinamika geopolitik menambah faktor kehati-hatian perbankan.
Kebijakan ke Depan: Arah BI dan Sinergi KSSK
Bank Indonesia menegaskan komitmen untuk mendorong penyaluran kredit dan pembiayaan dengan:
Kebijakan makroprudensial yang longgar
Percepatan sinergi dengan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK)
Dorongan pembiayaan inklusif, khususnya untuk UMKM
Kesimpulan
Investigasi GI-Media menunjukkan bahwa meski inflasi rendah dan stabil, pertumbuhan kredit perbankan melambat. Tantangan ke depan adalah memastikan likuiditas yang longgar bisa benar-benar mengalir ke sektor produktif, terutama UMKM. Sinergi kebijakan BI bersama KSSK, TPIP, dan TPID akan menentukan arah ekonomi Indonesia di sisa 2025.
























Discussion about this post