Jakarta, Jelang Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia, jagat maya dan ruang publik diramaikan oleh kemunculan bendera bajak laut ala anime Jepang One Piece. Bendera berlogo tengkorak ini bahkan berkibar di beberapa tempat umum, termasuk kawasan car free day dan tongkrongan anak muda. Meskipun bagi sebagian orang ini hanyalah bentuk ekspresi budaya pop, sebagian lainnya mempertanyakan di mana posisi Sang Merah Putih dalam peringatan kemerdekaan.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani menyikapi fenomena ini dengan pandangan terbuka. Menurutnya, pengibaran bendera One Piece adalah bentuk kreativitas yang tetap berakar pada rasa cinta Tanah Air.
“Saya kira itu ekspresi kreativitas, ekspresi inovasi, dan pasti hatinya adalah merah putih, semangatnya merah putih,” ujar Muzani di Gedung DPR, Jakarta.
Muzani juga menambahkan, penting bagi masyarakat untuk tetap menempatkan Bendera Merah Putih sebagai simbol utama perjuangan dan identitas bangsa. Kreativitas boleh, selama tidak menggantikan simbol negara.
Fenomena Globalisasi Budaya Pop
Pengamat budaya dari Universitas Indonesia, Dr. Mira Kartika, menyebut fenomena ini sebagai hasil dari penetrasi budaya pop global yang sangat kuat pada generasi muda Indonesia. One Piece, sebagai salah satu anime dengan penggemar terbanyak di dunia, telah menjadi simbol identitas komunitas yang lintas batas.
“Anak muda saat ini mengekspresikan semangat mereka dengan cara yang berbeda. Kita perlu menggali, bukan menghakimi. Bisa jadi mereka punya makna sendiri tentang ‘kebebasan’ yang dikaitkan dengan karakter Luffy dan kru bajak lautnya,” kata Mira.
Namun, ia mengingatkan bahwa ruang publik tetap memiliki etika nasional. Dalam konteks peringatan kemerdekaan, simbol negara seperti Bendera Merah Putih harus mendapatkan tempat utama dan penghormatan tertinggi.
Di Balik Bendera Bajak Laut, Ada Cinta Negeri
Beberapa komunitas penggemar anime yang ditemui di kawasan Sudirman mengaku tak bermaksud menggantikan Bendera Merah Putih. Mereka hanya ingin memeriahkan kemerdekaan dengan cara mereka.
“Kami tetap hormat pada Merah Putih. Tapi kita juga merayakan kemerdekaan dengan gaya milenial—pakai cosplay, nyanyi lagu Jepang, dan kibarkan bendera kru Topi Jerami. Ini bentuk suka cita,” ujar Reza, koordinator komunitas anime Jakarta Selatan.
Menurut Reza, justru melalui komunitas ini mereka mengajarkan nilai-nilai persahabatan, keberanian, dan perjuangan yang juga sejalan dengan semangat kemerdekaan.
Edukasi dan Ruang Dialog
Pemerintah dan masyarakat diajak untuk tidak sekadar menyalahkan, tetapi membuka ruang dialog dan edukasi. Seperti disampaikan sosiolog UIN Syarif Hidayatullah, Dr. Fikri Yusra, bahwa perbedaan cara berekspresi perlu dipahami sebagai cermin perkembangan zaman.
“Alih-alih melarang, mari kita beri panggung kepada anak muda untuk menggabungkan semangat nasionalisme dengan budaya pop. Yang penting, jangan sampai simbol negara diabaikan atau digantikan,” tegasnya.
Infografik: Mengenal Perbedaan Simbol Budaya dan Simbol Negara
📌 Bendera Merah Putih
- Simbol resmi negara
- Diatur dalam UU No. 24 Tahun 2009
- Wajib dikibarkan setiap 17 Agustus
📌 Bendera Komunitas/Pop Culture
- Bentuk ekspresi komunitas
- Tidak bisa menggantikan simbol negara
- Boleh dikibarkan, bukan sebagai pengganti
Menjelang 17 Agustus, kita diingatkan bahwa nasionalisme tak melulu soal cara lama. Di era digital dan budaya global, Merah Putih tetap harus dikibarkan—tapi bukan berarti mematikan ekspresi. Selama semangatnya tetap Merdeka, selama cintanya tetap untuk Indonesia, mari rangkul generasi muda dalam semangat yang tak harus seragam.
Fenomena pengibaran bendera bajak laut dari anime One Piece di rumah-rumah warga dan dekorasi lomba Agustusan jelang Hari Kemerdekaan RI ke-80 menjadi viral di berbagai platform media sosial. Fenomena ini menuai beragam tanggapan: dari yang menyebut sebagai bentuk kreativitas zaman, hingga yang menganggapnya sebagai penurunan kesadaran nasionalisme.
Ketua MPR RI Ahmad Muzani memberikan tanggapan yang sejuk namun tegas.
“Saya kira itu ekspresi kreativitas, ekspresi inovasi, dan pasti hatinya adalah Merah Putih, semangatnya Merah Putih,” ujarnya di Kompleks DPR-MPR, Senayan.
“Namun, sebagai bentuk rasa syukur atas kemerdekaan, tetaplah kibarkan bendera Merah Putih sebagai bentuk penghormatan kepada pendiri bangsa.”
1. Sudut Pandang Pemerintah: Jangan Lupakan Simbol Negara
Direktur Jenderal Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Bahtiar, saat dikonfirmasi melalui kanal resmi menyatakan bahwa pengibaran simbol selain bendera Merah Putih di momen peringatan HUT RI harus tetap mengedepankan rasa hormat.
“Kami menghargai kreativitas, tapi jangan sampai makna nasionalisme memudar. Di bulan kemerdekaan, bendera negara harus menjadi simbol utama,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya tidak akan melakukan penindakan, namun mendorong edukasi persuasif oleh aparat desa dan kelurahan.
2. Budayawan: Simbol Alternatif adalah Cermin Zaman
Seno Gumira Ajidarma, budayawan dan penulis, melihat fenomena ini dari kacamata perubahan zaman.
“Anak muda mengadopsi simbol-simbol baru untuk menyuarakan sesuatu. Terkadang bukan soal mengganti simbol negara, tapi bentuk identifikasi mereka pada kebebasan dan imajinasi,” ungkapnya dalam webinar kebudayaan bertajuk “Simbol dan Identitas dalam Budaya Pop”.
Namun ia menyarankan agar negara tidak reaktif:
“Penting untuk tidak menghakimi, tapi mendialogkan. Apa yang mereka sampaikan lewat simbol itu bisa jadi bentuk komunikasi yang gagal dimengerti generasi tua.”
3. Sumber Viral: One Piece di Tiang Bendera
Di media sosial, viral sebuah video yang diunggah akun TikTok @pirate.nusantara yang memperlihatkan pemuda di Sukabumi mengibarkan bendera bajak laut One Piece di tiang bendera sambil mengenakan ikat kepala ala Luffy. Video itu menembus 2,7 juta views hanya dalam dua hari.
Komentar netizen pun terbagi:
“Setidaknya mereka masih semangat 17an, gak kayak yang cuek-cuek,” tulis akun @anakmerdeka1945.
“Jangan kebablasan, ini simbol negara bro,” timpal akun lain @pahlawan.nyata.
4. Psikolog: Simbolisme & Rasa Milik yang Hilang
Dr. Riris Anggriani, psikolog budaya dari UGM, mengatakan bahwa fenomena ini bisa jadi pertanda lemahnya koneksi emosional anak muda terhadap simbol negara.
“Ketika simbol negara dianggap tidak relevan atau terasa jauh, mereka mencari simbol yang lebih dekat secara emosional. Tugas negara adalah menghadirkan kembali makna, bukan hanya aturan,” tegasnya.
5. Infografis Pendukung:
“Simbol di Tengah Kemerdekaan”
A. Fenomena Viral:
- 82 unggahan TikTok bendera One Piece (Agustus 2025)
- Trending #BenderaOnePiece dan #AgustusanUnik di Twitter & TikTok
- 4 kota besar yang ditemukan bendera non-nasional dikibarkan (Jakarta, Bandung, Depok, Surabaya)
B. Regulasi Resmi:
- UU No. 24 Tahun 2009: Bendera Negara harus dikibarkan di setiap peringatan 17 Agustus
- Pelanggaran terhadap penggunaan simbol negara tidak serta-merta dipidana, kecuali terdapat unsur penghinaan
C. Tanggapan Publik (Polling Online – 2.800 responden):
- 43%: Menyukai kreativitasnya, tapi Merah Putih tetap utama
- 29%: Tidak setuju, ini bentuk ketidakhormatan
- 24%: Netral
- 4%: Mendukung total karena “unik dan kekinian”
Kesimpulan: Mengibarkan Kesadaran, Bukan Hanya Bendera
Fenomena bendera One Piece bukan semata soal kartun atau simbol, tapi cerminan zaman. Di satu sisi, ada semangat kreatif, di sisi lain ada kekhawatiran memudarnya makna Merah Putih sebagai simbol negara. Di tengah perayaan 80 tahun Indonesia merdeka, yang perlu ditegakkan bukan hanya tiang bendera, tapi juga kesadaran kolektif akan makna perjuangan, simbol, dan rasa memiliki bangsa ini.
























Discussion about this post