Gi-media.com – Serang – Target pembangunan 12.000 unit rumah di Banten pada 2026 dihadapkan pada dua tantangan utama: keterbatasan kuota rumah subsidi nasional dan masih banyaknya calon konsumen yang gagal mengakses kredit perbankan. Kondisi ini mendorong pengembang dan lembaga pembiayaan mencari skema alternatif agar pasokan rumah tetap terserap pasar.
Ketua DPD REI Banten, Roni Adali, menyebutkan bahwa target pembangunan tahun 2026 meningkat signifikan dibandingkan realisasi 2025 yang berada di angka 8.300 unit. Menurutnya, capaian tersebut membutuhkan penyesuaian strategi, terutama dalam menghadapi isu pertanahan dan pembiayaan.
“Target tahun ini 12.000 unit. Ini bukan angka kecil, apalagi kuota subsidi nasional masih di 350 ribu unit. Maka pengembang harus lebih siap dari sisi kualitas, koordinasi, dan regenerasi,” kata Roni, Jumat, 30 Januari 2026.

Ia menjelaskan, REI Banten memfokuskan agenda kerja pada peningkatan kapasitas pengembang, penguatan kerja sama lintas lembaga, serta penyiapan kader kepemimpinan. Salah satu isu yang terus didorong penyelesaiannya ialah persoalan pertanahan yang kerap memperlambat proses pembangunan.
“Masalah tanah masih menjadi kendala besar. Karena itu, kami intens berkoordinasi dengan BPN agar ada solusi yang lebih cepat dan jelas bagi pengembang,” ujarnya.
Dari sisi pembiayaan, Branch Manager BTN KC Tangerang, Arjuna, mengatakan bahwa awal tahun menjadi periode krusial untuk mengejar realisasi KPR. BTN menargetkan pembiayaan 171 ribu unit secara nasional, dengan sekitar 5.300 unit berasal dari wilayah kerja KC Tangerang.
“Kuota tahun ini sudah tersedia sejak awal. Itu berarti akad harus dipercepat. Kami dorong konsumen dan pengembang agar tidak menunda,” katanya.
Ia menambahkan, tren tahunan menunjukkan penurunan realisasi saat Ramadan dan Lebaran, sehingga percepatan di Januari menjadi kunci. BTN menargetkan realisasi minimal setara Desember lalu, sekitar 400 akad.
Sementara itu, persoalan calon konsumen yang gagal lolos seleksi perbankan turut menjadi perhatian. President Director Miliki Rumah, Marine Novita, memperkenalkan skema Rent-to-Own sebagai jembatan bagi masyarakat dengan riwayat kredit bermasalah atau pendapatan tidak tetap.
“Profil konsumen bisa kami screening dalam lima detik. Yang belum memenuhi syarat KPR bisa ikut program sewa beli enam bulan sampai satu tahun. Jika lancar, mereka kembali eligible ke bank,” kata Marine.
Teknologi tersebut saat ini telah digunakan pada lebih dari 150 proyek perumahan di berbagai daerah, terutama pada segmen rumah subsidi. Skema ini dinilai membantu pengembang menjaga arus penjualan di tengah ketatnya seleksi kredit perbankan.























Discussion about this post