Gi-media.com – Samarinda – Nilai kepedulian sosial menjadi pesan utama yang diangkat dalam peluncuran buku “Tujuh Menit Narasi Ramadhan, 30 Kultum Harian Ramadhan” karya Anggota DPD RI utusan Kalimantan Timur, Andi Sofyan Hasdam. Melalui buku tersebut, Ramadan dipandang bukan hanya sebagai ibadah ritual, tetapi juga sebagai momentum membangun empati dan solidaritas antar sesama.
Dalam buku ini, Andi Sofyan Hasdam membagi materi Ramadan menjadi tiga bagian utama sesuai dengan sabda Rasulullah. Pembagian tersebut meliputi sepuluh hari pertama sebagai rahmat, sepuluh hari kedua sebagai ampunan atau maghfirah, serta sepuluh hari terakhir sebagai pembebasan dari api neraka.
Andi menjelaskan setiap fase Ramadan memiliki nilai pembelajaran yang berbeda bagi umat Muslim. Salah satu yang paling ditekankan adalah tumbuhnya empati sosial melalui pengalaman menahan lapar dan dahaga selama berpuasa.
“Dengan merasakan lapar itu kita akan lebih peka, dan dengan merasakan lapar kita lebih siap untuk berbagi,” ujar Andi Sofyan Hasdam. Menurutnya, rasa empati tersebut menjadi salah satu esensi utama Ramadan yang perlu terus dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari.
Buku tersebut resmi diperkenalkan kepada publik pada Senin, 16 Februari 2026, dalam sebuah kegiatan peluncuran yang berlangsung di salah satu restoran di Indonesia. Momentum peluncuran dilakukan menjelang datangnya bulan suci Ramadan sebagai bagian dari penguatan literasi keagamaan di tengah masyarakat.
Pesan dalam buku ini juga secara khusus ditujukan kepada generasi muda agar memahami Ramadan bukan sekadar kewajiban ibadah. Andi Sofyan Hasdam menilai generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga nilai kebersamaan di tengah dinamika sosial yang terus berkembang.
Melalui pendekatan narasi sederhana dan kultum singkat, buku ini menghadirkan pembahasan mengenai nilai kemanusiaan, kepedulian sosial, serta praktik berbagi sebagai bagian dari pengalaman spiritual Ramadan yang dituangkan dalam 30 materi kultum harian.






















Discussion about this post