Gi-media.com Jakarta — Program Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan di bawah naungan Yayasan KEHATI terus menegaskan perannya sebagai salah satu pilar penting dalam upaya pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati di Pulau Borneo.
Sejak berjalan pada periode 2014–2025, TFCA Kalimantan telah bekerja sama dengan 81 lembaga mitra, mencakup organisasi masyarakat sipil, lembaga riset, komunitas adat, hingga mitra daerah. Kolaborasi ini menjadi fondasi utama dalam menjaga keseimbangan antara konservasi ekosistem dan keberlanjutan sosial-ekonomi masyarakat sekitar hutan.
Di bawah kepemimpinan Puspa D. Liman, TFCA Kalimantan tidak hanya berfokus pada perlindungan kawasan, tetapi juga pada pendekatan berbasis lanskap dan partisipasi masyarakat lokal sebagai penjaga utama hutan.
> “Konservasi tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus tumbuh bersama masyarakat, budaya, dan kebutuhan hidup yang nyata. Di situlah keberlanjutan menemukan maknanya,” ujar Puspa D. Liman.

Perlindungan Spesies Kunci Kalimantan
Selama lebih dari satu dekade, TFCA Kalimantan memberikan dukungan nyata terhadap pelestarian berbagai spesies kunci Kalimantan, di antaranya:
Badak Sumatra di Kalimantan Timur
Rangkong gading di Kalimantan Barat
Pesut Mahakam
Orangutan dan bekantan
Banteng Kalimantan
Buaya badas
Arwana
Lutung Sentarum
Upaya ini dilakukan melalui kombinasi riset, penguatan kapasitas mitra lokal, restorasi habitat, serta advokasi kebijakan berbasis data ilmiah.
Heart of Borneo dan Restorasi Berkelanjutan
Di kawasan Heart of Borneo (HoB), TFCA Kalimantan menilai restorasi hutan tidak semata soal menanam kembali pohon, tetapi memastikan ekosistem dapat pulih secara alami dan berfungsi kembali sebagai ruang hidup satwa serta sumber penghidupan masyarakat.
Pendekatan yang digunakan menekankan pada:
restorasi berbasis ekologi,
penguatan tata kelola lokal,
serta integrasi pengetahuan tradisional masyarakat adat.
Masyarakat Adat sebagai Penjaga Hutan
TFCA Kalimantan menempatkan masyarakat adat dan lokal sebagai mitra strategis. Berbagai inovasi program diarahkan untuk memperkuat ekonomi berbasis hutan lestari, mulai dari pengelolaan hasil hutan bukan kayu, ekowisata, hingga usaha komunitas yang selaras dengan prinsip konservasi.
Namun, tantangan tetap ada, terutama dalam menghadapi perubahan pola pikir akibat tekanan ekonomi jangka pendek dan ekspansi industri. Karena itu, TFCA Kalimantan aktif mendorong dialog multipihak dan edukasi berkelanjutan.
Menjembatani Konservasi dan Pembangunan
Menghadapi tekanan industri dan dampak perubahan iklim, TFCA Kalimantan mengambil posisi sebagai penjembatan kepentingan, mendorong kolaborasi ideal antara pemerintah daerah, sektor swasta, dan lembaga konservasi. Tujuannya jelas: pembangunan tetap berjalan tanpa mengorbankan masa depan hutan Kalimantan.
Profil Singkat Puspa D. Liman
Puspa D. Liman merupakan figur yang telah lama berkecimpung di dunia konservasi dan pembangunan berkelanjutan. Dengan pengalaman lintas sektor—mulai dari pengelolaan program lingkungan, kerja sama internasional, hingga advokasi kebijakan—ia dikenal sebagai pemimpin yang mengedepankan pendekatan kolaboratif, inklusif, dan berbasis data.
Di TFCA Kalimantan, Puspa memimpin dengan visi jangka panjang: memastikan hutan Borneo tetap lestari, satwa terlindungi, dan masyarakat lokal tumbuh sejahtera bersama alamnya.























Discussion about this post