Gi-media.com Jakarta, 11 November 2025 — Bagaimana jika uang bukan sekadar alat transaksi, melainkan sarana menuju kesejahteraan lahir dan batin? Inilah pesan utama yang disampaikan Idayanti Sudiro, penulis buku “Financial Wisdom with Emotional Intelligence” sekaligus Founder Financial Wisdom Academy (FWA), dalam acara Bedah Buku “Financial Wisdom with Emotional Intelligence” di Perpustakaan Jakarta.
.
Buku ini lahir dari pengalaman pribadi dan refleksi panjang Idayanti tentang hubungan antara emosi, perilaku, dan keputusan keuangan. Ia mengungkapkan bahwa inspirasi utama buku ini berangkat dari realitas masa pensiun — masa yang seharusnya menjadi waktu menikmati hasil kerja keras, namun kerap menjadi masa penuh kecemasan bagi banyak orang.
.
“Uang itu hanya alat, tapi cara kita menggunakannya sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional dan spiritual,” ujar Idayanti. “Ketika seseorang sedang marah, kecewa, atau merasa rendah diri, keputusan keuangannya bisa sangat berbeda dari saat ia tenang. Karena itu, kecerdasan emosional menjadi kunci dalam pengelolaan finansial.”
.
*Mengolah Emosi, Menemukan Makna*
Menurut Idayanti, banyak orang terjebak dalam ilusi status sosial dan gaya hidup kompetitif. Dari perasaan ingin terlihat “setara” hingga dorongan untuk membeli sesuatu hanya demi menenangkan emosi sesaat, semuanya menunjukkan betapa kuatnya pengaruh emosi terhadap perilaku keuangan.
.
Ia mencontohkan, seseorang yang dididik dengan pola pikir “uang itu susah didapat” atau “uang itu sumber masalah” akan cenderung memandang finansial dengan rasa takut, bukan rasa syukur. “Mindset seperti itu akan membentuk perilaku konsumsi dan investasi kita. Karena itu, financial wisdom harus berangkat dari memahami diri sendiri secara holistik — mencakup fisik, mental, emosional, dan spiritual,” tuturnya.
.
*Menerapkan Prinsip Holistik ala FWA*
Sebagai lembaga edukasi finansial, Financial Wisdom Academy (FWA) secara konsisten terus mengadakan berbagai program pelatihan dan seminar gratis ataupun berbayar, online atau offline, secara rutin; dan memiliki program CSR FWA Berbagi sebagai bentuk kepedulian FWA untuk membantu sebanyak mungkin orang meraih hidup yang lebih baik, lebih sejahtera secara fisik, mental ataupun spiritual. Program FWA tidak hanya membahas manajemen keuangan, tetapi juga mengenal diri, membangun mindset positif, mengelola emosi, menyiapkan masa pensiun yang tenang dan baik, hingga mewariskan harta/aset kepada orang-orang yang dicintai dengan tenang dan damai.
.
“FWA fokus pada pertumbuhan diri dan lingkungan. Kami ingin membantu masyarakat memahami bahwa kesejahteraan tidak bisa dicapai hanya dengan besarnya angka, tapi dengan keseimbangan hidup,” jelas Idayanti.
.
*“Fun Finance”: Menikmati Hidup Lewat Keuangan yang Sadar*
Melalui konsep “Fun Finance”, FWA mengajak masyarakat untuk memandang keuangan sebagai bagian dari kebahagiaan hidup, bukan beban. “Hidup lebih fun itu bukan berarti boros, tapi mampu menikmati hidup tanpa tekanan finansial. Dengan mengolah emosi dan bijak mengatur uang, kita bisa bahagia tanpa kehilangan arah,” katanya.
.
*Pesan Kehidupan: Sejahtera Lahir Batin, Bukan Sekadar Kaya*
Menutup sesi bedah buku, Idayanti mengingatkan pentingnya hidup dengan tujuan jangka panjang. “Hiduplah seolah-olah kita masih akan terus hidup lama. Jangan hanya ingin terlihat kaya, tapi jadilah orang yang tetap sejahtera,” ujarnya. Menurutnya, kesuksesan sejati bukan hanya diukur dari banyaknya harta, tetapi dari keseimbangan antara fisik, emosi, mental, dan spiritual.
.
“Kalau emosi dan mentalnya sehat, finansial akan mengikuti. Dan pada akhirnya, semua kembali kepada Tuhan. Uang hanyalah alat untuk hidup dengan bermakna,” tambahnya.
.
*Perspektif dari Pembedah Buku: Lahyanto Nadie*
.
Drs. Lahyanto Nadie, pembedah buku sekaligus tokoh literasi dari Pustaka Kaji, menilai buku ini memiliki pendekatan yang unik dan reflektif. “Idayanti tidak hanya bicara soal angka dan strategi keuangan, tetapi menyentuh aspek psikologis dan spiritual yang sering diabaikan. Ini membuat Financial Wisdom with Emotional Intelligence berbeda dari buku finansial lain,” ungkap Lahyanto.
.
Ia juga menegaskan pentingnya lembaga seperti Perpustakaan Jakarta untuk terus mendukung literasi finansial yang membangun kesadaran emosional masyarakat. “Gerakan literasi tidak cukup dengan membaca, tapi juga memahami makna di balik perilaku manusia terhadap uang,” ujarnya.
.
*Langkah FWA ke Depan*
.
FWA berkomitmen melanjutkan misi edukasi finansial berbasis nilai positif melalui kelas daring, podcast, dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan maupun perusahaan. Tujuannya: menanamkan budaya literasi finansial yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga menenangkan secara emosional.
.
“Melalui Financial Wisdom Academy, Idayanti Sudiro mengajak masyarakat untuk tidak sekadar cerdas secara finansial, tapi juga tenang secara emosional — karena kesejahteraan sejati bukan hanya soal angka, tapi juga rasa.”
.
*Tentang Financial Wisdom Academy (FWA)*
.
FWA adalah lembaga edukasi finansial yang mengusung pendekatan holistik, dengan memadukan kecerdasan emosional dan energi diri untuk mendapatkan kebijaksanaan finansial sebagai jalan menuju kesejahteraan. Berdiri atas semangat untuk membantu masyarakat mencapai keseimbangan hidup, FWA aktif menyelenggarakan seminar online/offline, pelatihan korporasi, dan program literasi keuangan berbasis nilai-nilai dan kebijaksanaan agar orang bisa hidup sejahtera lahir batin dalam jangka panjang.
























Discussion about this post