Gi-media.com Jakarta, Selama lebih dari 539 hari, perang di Gaza telah menelan korban jiwa lebih dari 50.000 orang dan melukai lebih dari 110.000 orang (data PBB/UNICEF/UN Women, 2025). Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah tubuh, nyawa, dan masa depan—yang sebagian besar adalah perempuan dan anak perempuan.
Di balik reruntuhan bangunan dan tenda-tenda pengungsian di Jalan Omar Al Mokhtar, Gaza City, suara-suara perempuan menggema: suara yang meminta dunia untuk tidak lagi menormalisasi penderitaan.
Feminisme Interseksional: Menyoroti Mereka yang Paling Rentan
Feminisme interseksional mengajarkan bahwa penderitaan tidak dialami secara seragam. Seorang ibu tunggal di Gaza tidak hanya kehilangan rumah, tapi juga akses pada pelayanan kesehatan reproduksi. Seorang perempuan difabel tidak hanya berjuang bertahan hidup, tapi juga menghadapi hambatan ganda ketika distribusi bantuan terhambat. Anak perempuan pengungsi internal tidak hanya kehilangan sekolah, tapi juga menghadapi risiko kekerasan berbasis gender.
Ketika Donald Trump dan Benjamin Netanyahu mendukung kebijakan militer yang terus menyalakan perang, mereka menutup mata terhadap lapisan-lapisan kerentanan ini. Politik senjata dan blokade hanya memperdalam jurang penderitaan.
Suara-suara Feminist, Pluralis, Progresif
Kelompok feminis di Palestina berulang kali menyerukan agar dunia internasional mengakui penderitaan perempuan Gaza bukan sebagai efek samping perang, tetapi sebagai konsekuensi langsung dari kebijakan militer yang patriarkis dan destruktif.
Aktivis pluralis global mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak mengenal agama atau etnis: “Ketika satu perempuan di Gaza kehilangan martabatnya, seluruh perempuan di dunia pun kehilangan sebagian dari kemanusiaannya.”
Jaringan progresif internasional menekankan bahwa solusi tidak hanya gencatan senjata, tetapi juga keadilan jangka panjang: rekonstruksi yang inklusif, sistem kesehatan yang ramah perempuan, dan jaminan akses pendidikan yang aman bagi anak perempuan.
Serangan Politik yang Mengorbankan Perempuan
Donald Trump, dalam kapasitasnya sebagai Presiden Amerika Serikat, menyetujui miliaran dolar paket senjata untuk Israel. Dukungan itu berarti bom, peluru, dan tank yang menghantam rumah-rumah sipil. Di saat yang sama, ia memveto resolusi PBB yang menyerukan gencatan senjata permanen. (Reuters, 18/9/2025)
Netanyahu, di sisi lain, terus mengobarkan operasi militer, meski dunia menyaksikan perempuan yang melahirkan di tenda darurat tanpa listrik, air, atau perawatan medis dasar.
Jalan Keluar: Jurnalisme Inklusif dan Solusi
Kami mempraktikkan jurnalisme inklusif: mendengarkan suara korban, menghadirkan perspektif feminis, dan menolak narasi yang menghapus penderitaan perempuan. Dengan cara ini, publik internasional tidak hanya mendapat berita tentang kematian, tetapi juga peta jalan menuju kehidupan yang lebih adil.
Tuntutan kami jelas:
1. Hentikan dukungan militer tanpa syarat dari Trump kepada Israel.
2. Gencatan senjata permanen yang menjamin keselamatan perempuan dan anak-anak.
3. Akses kemanusiaan penuh: pangan, air, kesehatan reproduksi, pendidikan, dan perlindungan hukum.
4. Keadilan jangka panjang: rekonstruksi inklusif yang menempatkan perempuan sebagai subjek utama, bukan objek belas kasihan.
Untuk Generasi Mendatang
Kita harus bisa menjawab ketika anak-anak kita bertanya kelak: “Mengapa dunia diam ketika perempuan Gaza kehilangan segalanya?” Jawaban kita tidak boleh lagi “karena kita tidak tahu” atau “karena kita tak mampu”.
Hari ini, kita tahu. Hari ini, kita mampu. Maka hari ini pula, kita harus bertindak.
























Discussion about this post