Gi+media.com Jakarta, September 2025 Di ufuk timur Lampung, matahari perlahan menyembul di balik lautan Selat Sunda. Kapal ferry mulai bersandar di Pelabuhan Bakauheni, membawa ribuan penumpang yang baru saja menyeberang dari Merak. Namun, ada yang berbeda dari wajah pelabuhan ini. Di atap gangway Dermaga 1 dan 2, berjajar panel surya berkilau, menangkap energi matahari untuk disulap menjadi listrik bersih. Tak jauh dari sana, instalasi pengolahan air limbah berdiri kokoh, memastikan setiap tetes limbah tak lagi mencemari laut.
Beginilah wajah baru ASDP: perusahaan pelat merah yang tidak hanya menghubungkan pulau, tetapi juga menenun masa depan hijau bagi Nusantara.
Menghubungkan Pulau, Menjaga Lingkungan
Sebagai operator transportasi ferry terbesar di Indonesia, PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) memiliki peran vital. Setiap tahun, jutaan orang dan kendaraan melintasi lautan menggunakan jasanya. Namun, di balik mobilitas ini, ada tantangan besar: ketergantungan pada energi fosil dan ancaman pencemaran laut.
Kualitas udara Jakarta, misalnya, pernah berada pada indeks AQI 144 dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 10 kali ambang batas WHO. Sementara itu, pencemaran laut akibat limbah menjadi momok bagi masyarakat pesisir.
Di tengah tantangan inilah, ASDP mengambil langkah transformasi. Dengan semangat Transformation for Growth dan semboyan Bangga Menyatukan Nusantara, ASDP meluncurkan konsep green port di dua simpul utama penyeberangan nasional: Merak dan Bakauheni.
Solar Panel: Mengurangi Jejak Fosil
Di Dermaga 5 dan 7 Pelabuhan Merak, solar panel dengan kapasitas 61,6 kWp kini beroperasi. Energi yang dihasilkan mampu mengefisiensi hingga 81,94 MWh di Dermaga 5 dan 80,38 MWh di Dermaga 7 setiap tahun.
Sementara itu, Bakauheni menghadirkan panel surya berkapasitas lebih besar, 196 kWp, mampu menghasilkan hingga 166 kWp per hari. Ditambah dengan lampu solar panel yang dipasang sejak 2023, pelabuhan ini semakin mandiri energi.
Bagi Sutarman, seorang teknisi listrik di Merak, proyek ini bukan sekadar inovasi.
“Saya sudah 15 tahun bekerja di pelabuhan. Dulu, listrik selalu jadi tantangan, apalagi saat beban tinggi. Sekarang, dengan solar panel, kami bukan hanya lebih hemat, tapi juga merasa ikut menjaga bumi. Ada kebanggaan tersendiri,” ujarnya.
IPAL: Menjaga Laut dari Pencemaran
Inovasi lainnya adalah instalasi pengolahan air limbah (IPAL). Di Merak, delapan titik IPAL dipasang, menjangkau dermaga hingga ruang tunggu. Di Bakauheni, sembilan klaster IPAL dibangun untuk menampung dan mengolah limbah secara menyeluruh.
Bagi nelayan lokal seperti Pak Usman, ini menjadi kabar gembira.
“Dulu sering lihat air laut di sekitar pelabuhan keruh, kadang bau. Sekarang lebih bersih. Kami nelayan kecil merasakan langsung manfaatnya. Hasil tangkapan ikan juga makin baik,” katanya sambil tersenyum.
Cerita Pak Usman menunjukkan bahwa langkah ASDP bukan hanya teknis, tetapi menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat.
Reverse Vending Machine: Edukasi Publik
ASDP juga melibatkan masyarakat dengan memasang Reverse Vending Machine (RVM) di ruang publik pelabuhan. Mesin ini memberi poin insentif bagi penumpang yang memasukkan botol plastik bekas.
Seorang mahasiswa, Lestari (22), yang sering menyeberang dari Merak ke Lampung untuk kuliah, merasa program ini inspiratif.
“Biasanya botol plastik saya buang begitu saja. Sekarang, dengan RVM, ada kesadaran baru. Rasanya senang bisa berkontribusi kecil untuk lingkungan,” ucapnya.
Program ini sejalan dengan SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim) dan SDG 14 (Ekosistem Laut).
Green Building: Kantor yang Bernapas
Tak hanya di pelabuhan, konsep ramah lingkungan juga hadir di kantor pusat ASDP di Jakarta. Perusahaan memperluas ruang hijau sebagai penyerap polusi udara. Langkah ini semakin relevan di tengah tantangan kualitas udara perkotaan yang kian memburuk.
Dukungan Pemimpin & Pemangku Kepentingan
Direktur Utama ASDP, Heru Widodo, menegaskan bahwa inisiatif ini adalah tonggak penting.
“Kehadiran green port adalah bentuk nyata kepedulian ASDP terhadap lingkungan. Kami ingin pelabuhan tidak hanya menjadi simpul transportasi, tetapi pusat inovasi ramah lingkungan yang memberi manfaat luas, mulai dari efisiensi energi hingga menjaga bumi bagi generasi mendatang.”
Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menambahkan:
“Setiap langkah kecil, seperti memilih energi terbarukan atau memilah sampah plastik, memberi dampak besar. ASDP mengajak semua pihak bergerak bersama, karena menjaga lingkungan bukan hanya tugas perusahaan, melainkan tanggung jawab kita semua.”
Transformasi untuk Pertumbuhan
Langkah ASDP menghadirkan green port menunjukkan bahwa transformasi bukan sekadar jargon. Dengan mengurangi jejak karbon, mencegah pencemaran laut, dan membangun kesadaran publik, ASDP menegaskan diri sebagai motor penggerak pembangunan berkelanjutan.
Lebih dari itu, inisiatif ini menunjukkan bahwa transportasi laut bukan hanya tentang mobilitas, tetapi juga kontribusi nyata bagi rakyat dan bumi.
Cerita Kita, Cerita Indonesia
Setiap perjalanan ferry membawa kisah. Ada pekerja yang bangga dengan inovasi tempat kerjanya, nelayan yang merasakan laut lebih bersih, mahasiswa yang belajar memilah sampah, hingga penumpang yang sadar bahwa perjalanan mereka ikut menjaga lingkungan.
Inilah makna sesungguhnya dari tema kompetisi jurnalistik ASDP 2025: Cerita Kita, Cerita Indonesia. Bahwa Indonesia sejati terwujud ketika konektivitas, ekonomi, dan keberlanjutan berjalan seiring.
Dengan green port, ASDP tidak hanya menyatukan Nusantara, tetapi juga merajut masa depan hijau untuk generasi mendatang.












Discussion about this post