Jakarta Gi-media.com SOLOK, SUMATERA BARAT – Di lereng Bukit Barisan, sebuah desa bernama Tabek Talang Babungo menyimpan cerita transformasi sosial yang inspiratif. Dulu, ia dikenal sebagai kampung miskin dan terisolir. Kini, berkat dukungan Kampung Berseri Astra (KBA) dan semangat gotong royong warganya, desa ini menjelma menjadi kampung wisata budaya dan edukasi yang memadukan alam, tradisi, dan peluang ekonomi berkelanjutan.
bagaimana program KBA mengubah wajah Tabek Talang Babungo melalui Rumah Pintar, rumah produksi gula semut, bank sampah, homestay, hingga jalur wisata alam.
Dari Isolasi Menuju Harapan
Sebelum program hadir, Tabek Talang Babungo kerap dicap sebagai kampung miskin. Akses terbatas, peluang ekonomi minim, dan keterbatasan pendidikan membuat banyak warganya sulit berkembang.
Tokoh penggerak kampung, Kasri Satra, mengingat betul masa-masa sulit itu. “Dulu kami hanya bisa bertahan hidup seadanya. Mau sekolah tinggi susah, mau menjual hasil tani terbatas. Banyak anak muda akhirnya merantau,” kenangnya.
Perubahan mulai terjadi ketika desa ini masuk sebagai bagian dari Kampung Berseri Astra. Astra tidak datang dengan program instan, melainkan mendorong potensi lokal agar berkembang sesuai kebutuhan warga.
Rumah Pintar: Pusat Pengetahuan dan Inovasi
Salah satu tonggak penting adalah berdirinya Rumah Pintar, hasil gotong royong warga dengan dukungan fasilitas dari Astra. Rumah Pintar bukan sekadar tempat belajar anak-anak, tetapi juga pusat kegiatan masyarakat:
Anak-anak belajar membaca, menulis, dan teknologi sederhana.
Ibu-ibu mengelola bank sampah, belajar keterampilan menganyam, dan mengolah hasil tani.
Pemuda mengembangkan jalur wisata, agrowisata, dan pelatihan kewirausahaan.
Dari Rumah Pintar inilah muncul gagasan berantai: rumah produksi gula semut, rumah maggot, hingga kolam ikan. Setiap unit usaha terhubung dalam satu ekosistem.
Gula Semut, Maggot, dan Bank Sampah: Ekonomi Sirkular di Desa
Transformasi paling terasa di sektor ekonomi. Rumah produksi gula semut kini dikelola 20 keluarga dengan kapasitas produksi 50 kilogram per hari. Pasarnya sudah menjangkau Sumatra Barat, Jakarta, hingga Batam.
Keunikan model usaha ini adalah keberlanjutan:
Limbah organik dari produksi dialihkan ke rumah maggot untuk pakan ternak.
Limbah anorganik masuk ke bank sampah yang dikelola ibu-ibu kampung.
Hasil bank sampah diputar kembali untuk biaya pendidikan, kesehatan, bahkan beasiswa anak muda hingga ke Jepang.
Sebuah sistem ekonomi sirkular sederhana, lahir dari kesadaran kolektif warga.
Desa Wisata: Dari Kare-Kare hingga Tari Piring
Kini, Tabek Talang Babungo juga tumbuh sebagai desa wisata budaya dan edukasi. Ada 45 homestay yang siap menampung tamu, jalur wisata alam yang menembus hutan kecil, serta ruang belajar terbuka bagi pengunjung.
Pengalaman wisata yang ditawarkan unik:
Wisatawan bisa memetik tebu langsung dari kebun.
Belajar membuat gula semut bersama warga.
Menyaksikan tari piring yang dimainkan anak-anak di panggung kecil kampung.
Menikmati kare-kare dan kopi tubruk di udara sejuk Bukit Barisan.
Wisata edukasi semacam ini tidak hanya memberi penghasilan tambahan, tetapi juga menjaga tradisi agar tetap hidup.
Inspirasi di Roadshow Astra
Kisah ini semakin luas terdengar ketika menjadi latar Roadshow Kedua Lomba Foto Astra & Anugerah Pewarta Astra 2025 pada 3 Agustus lalu.
Lebih dari 100 peserta — jurnalis, mahasiswa, komunitas fotografi, hingga warga sekitar — hadir langsung untuk belajar fotografi dan menulis. Mereka juga mendengar kisah Kasri tentang bagaimana kampung ini bangkit.
“Kampung ini tidak hanya menyimpan warisan, tapi juga semangat untuk mempertahankannya. Kehadiran para peserta roadshow membuat kami yakin cerita ini bisa menjangkau lebih jauh,” kata Kasri.
Transformasi Tabek Talang Babungo sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) Indonesia. Beberapa poin yang dapat ditarik:
1. No Poverty & Decent Work (SDG 1 & 8) – Rumah produksi dan homestay membuka lapangan kerja lokal.
2. Quality Education (SDG 4) – Rumah Pintar memberi akses pengetahuan untuk anak dan remaja.
3. Responsible Consumption & Production (SDG 12) – Ekonomi sirkular lewat maggot dan bank sampah.
4. Climate Action (SDG 13) – Konservasi lingkungan melalui pengelolaan limbah.
5. Partnership for the Goals (SDG 17) – Kolaborasi Astra dengan warga lokal.
Dengan pendekatan ini, desa tidak hanya bertahan hidup, tapi juga membangun ekosistem berkelanjutan.
Indepth report ini menemukan beberapa faktor kunci keberhasilan transformasi:
Kepemimpinan lokal: sosok Kasri Satra yang mampu menggerakkan warga.
Gotong royong: inisiatif lahir dari warga, bukan sekadar program bantuan.
Kolaborasi strategis: dukungan Astra berupa peralatan, pelatihan, promosi, tanpa mengubah identitas lokal.
Model ekonomi sirkular: setiap limbah dimanfaatkan kembali.
Penguatan budaya: wisata berbasis tradisi memperkuat identitas sekaligus menarik pengunjung.
Desa Astra Sejahtera dari Bukit Barisan
Tabek Talang Babungo kini menjadi contoh nyata desa Astra sejahtera. Dari kare-kare hangat di meja kayu, denting piring di tangan anak-anak, hingga suara mesin produksi gula semut, semua bercerita tentang perjalanan desa yang menjahit masa depan dari tradisi dan alam.
Bagi Indonesia, kisah ini bukan sekadar catatan lokal. Ia adalah inspirasi bagaimana desa-desa bisa menjadi motor pemberdayaan, pelestarian, dan kesejahteraan jika diberi ruang untuk tumbuh.























Discussion about this post