Gi-media.com Jakarta — Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama resmi menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
Penetapan tersebut diambil dalam Sidang Isbat yang digelar pada Selasa, 17 Februari 2026, setelah melalui rangkaian pembahasan dan verifikasi data astronomi serta laporan rukyat dari berbagai wilayah di Indonesia.
Sidang Isbat merupakan mekanisme resmi negara dalam menentukan awal bulan Hijriah, khususnya Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah. Proses ini melibatkan pakar astronomi, ahli falak, perwakilan organisasi kemasyarakatan Islam, serta instansi terkait.
Penetapan dilakukan secara komprehensif dengan menggabungkan metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).
Berdasarkan data yang dipaparkan dalam sidang, posisi hilal pada 17 Februari 2026 belum memenuhi kriteria visibilitas yang disepakati dalam forum Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS). Kriteria tersebut mensyaratkan tinggi hilal minimum 3 derajat dan elongasi minimum 6,4 derajat. Karena belum memenuhi batas tersebut, maka bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari.
Dengan demikian, umat Islam di Indonesia mulai melaksanakan ibadah puasa Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026. Salat Tarawih pertama akan dilaksanakan pada Rabu malam, 18 Februari 2026.
Penetapan ini memberikan kepastian bagi masyarakat dalam mempersiapkan diri menyambut bulan suci, baik dari sisi ibadah, sosial, maupun aktivitas ekonomi.
Ramadan tidak hanya menjadi momentum peningkatan spiritual, tetapi juga penguatan solidaritas sosial melalui zakat, infak, sedekah, dan berbagai kegiatan kemanusiaan.
Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah yang mungkin terjadi di sejumlah kalangan merupakan bagian dari dinamika fikih yang telah lama dikenal dalam tradisi Islam.
Namun demikian, seluruh pendekatan tersebut berlandaskan pada ijtihad ilmiah dan pertimbangan syariat.
Dengan keputusan resmi ini, masyarakat diharapkan dapat menyambut Ramadan dengan kesiapan lahir dan batin, menjaga persatuan, serta menjadikan bulan suci sebagai ruang pembinaan diri dan penguatan nilai kebersamaan.
























Discussion about this post