Gi-media. com Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada sesi perdagangan Kamis (25/9), dolar AS berhasil menguat, hampir menyentuh level Rp 16.800 per dolar.
Pakar ekonomi mengamati, tekanan terhadap rupiah bersumber dari kombinasi faktor — dari dinamika global hingga kebijakan domestik — yang saling memperburuk satu sama lain. Agar ke depan rupiah lebih tangguh, penting untuk memahami akar persoalan dan arah kebijakan yang bisa diperbaiki.
Akar Tekanan: Faktor-Faktor yang Mendorong Pelemahan Rupiah
1. Kondisi Global dan Risiko Geopolitik
Penguatan dolar AS tak lepas dari kondisi eksternal, khususnya ketegangan geopolitik di Eropa. Retorika kebijakan minyak dan sanksi terhadap Rusia turut memicu kekhawatiran pasar global, sehingga investor kembali mencari “safe haven” seperti dolar.
2. Pernyataan Kebijakan yang Menimbulkan Ketidakpastian
Beberapa pernyataan pejabat keuangan domestik dianggap kurang meyakinkan pasar, seperti keputusan melepas wacana tax amnesty. Menurut pengamat, pasar sempat berharap adanya langkah amnesti pajak yang bisa mendongkrak aliran modal masuk.
3. Intervensi yang Terbatas dan Terbebani Cadangan Devisa
Bank Indonesia (BI) memang aktif melakukan intervensi dalam pasar valuta (termasuk pasar NDF/DNDF), namun intensitasnya diklaim tidak bisa terlalu agresif demi menjaga cadangan devisa tetap sehat.
4. Penurunan Suku Bunga dan Kekhawatiran Kebijakan Fiskal
Penurunan suku bunga BI beberapa kali mengejutkan investor. Sementara itu, rencana revisi undang-undang tentang keleluasaan fiskal (UU P2SK) memunculkan kekhawatiran bahwa mandat BI di masa depan tidak hanya akan berorientasi inflasi dan nilai tukar, tetapi juga mendukung pertumbuhan ekonomi secara langsung — suatu potensi kompromi independensi bank sentral.
Proyeksi: Apakah Rupiah Bisa Tembus Rp 17.000?
Menurut pengamat Ibrahim Assuaibi, peluang dolar AS menembus Rp 17.000 sangat mungkin jika rupiah melemah melewati Rp 16.800.
Namun, seberapa jauh rupiah tergelincir akan sangat tergantung pada keputusan-keputusan kebijakan dalam waktu dekat — apakah BI dan pemerintah sanggup menjaga kepercayaan pasar dan cadangan devisa sekaligus ― tanpa mengorbankan stabilitas ekonomi makro.
Rekomendasi Kebijakan: Jalan Menuju Rupiah Lebih Tangguh
Berikut saran-saran yang bisa dipertimbangkan agar tekanan terhadap rupiah bisa dikelola lebih baik:
Aspek Langkah yang Direkomendasikan
Kebijakan Fiskal & Pajak Membuka dialog ulang wacana tax amnesty atau insentif pajak yang sehat agar menarik aliran modal asing tanpa memicu persepsi “kongkalikong.”
Independensi BI Menjaga agar BI tetap fokus pada mandat menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi, tanpa beban tambahan yang melemahkan kredibilitasnya.
Intervensi Nilai Tukar Meningkatkan koordinasi antara BI dan pemerintah dalam menggunakan intervensi pasar — tetap aktif, tetapi cermat agar cadangan devisa tetap aman.
Komunikasi Kebijakan Menyampaikan kebijakan moneter dan fiskal secara transparan dan konsisten agar pasar tidak mudah resah.
Diversifikasi Ekonomi Memperkuat ekspor non-migas, mengurangi ketergantungan impor bahan baku, dan membangun sektor strategis agar tekanan eksternal bisa diredam dari sumber domestik.
Ujian rupiah terhadap dolar AS kali ini mengingatkan bahwa nilai tukar bukan sekadar soal angka di layar — melainkan refleksi kepercayaan pasar dan efektivitas kebijakan. Dengan langkah-langkah terukur dan komunikasi yang baik, tekanan jangka pendek bisa dikendalikan, dan di masa mendatang rupiah bisa lebih resilien terhadap guncangan eksternal.
























Discussion about this post