GI-Media.com – Di sebuah warung kopi sederhana di pinggiran Depok, Sri Wahyuni (42) duduk sambil menunggu anak bungsunya pulang sekolah. Ia bukan pejabat, bukan pula pengusaha besar. Sri hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mengandalkan penghasilan suaminya sebagai tukang ojek online. Namun ada satu kebiasaan kecil yang membuatnya percaya diri menghadapi hari-hari penuh ketidakpastian: menabung emas di Pegadaian.
“Awalnya saya ikut arisan emas sama ibu-ibu komplek. Lama-lama saya coba tabung sendiri lewat aplikasi Pegadaian Digital. Nominalnya kecil, sepuluh ribu rupiah bisa, tapi rasanya seperti punya pegangan untuk masa depan,” tutur Sri sambil tersenyum.
Kisah Sri hanyalah satu dari jutaan cerita masyarakat kecil yang kini menemukan harapan baru lewat program Tabungan Emas Pegadaian. Di tengah ekonomi global yang penuh guncangan, emas kembali hadir bukan sekadar sebagai perhiasan, melainkan sebagai alat inklusi finansial yang menyentuh berbagai lapisan masyarakat.
Emas: Dari Simbol Warisan ke Instrumen Inklusi
Menabung emas bukanlah hal baru. Sejak ratusan tahun lalu, emas telah dianggap sebagai simbol kemakmuran, sekaligus pegangan ketika masa sulit datang. Dalam budaya Nusantara, emas sering diwariskan sebagai harta keluarga yang nilainya tak lekang dimakan zaman.
Kini, di abad digital, emas tampil dalam wujud lebih sederhana dan modern. World Gold Council (2024) mencatat harga emas naik sekitar 11% sepanjang tahun, menjadikannya instrumen yang relatif stabil dibanding saham atau mata uang.
Dalam situasi pasca pandemi, ketika inflasi tinggi dan kebutuhan hidup semakin mahal, emas menjadi “pelindung nilai” yang dapat diandalkan.
Namun ada masalah klasik: emas selama ini dianggap hanya untuk kalangan menengah ke atas. Membeli emas batangan 1 gram saja membutuhkan ratusan ribu rupiah, angka yang tidak selalu terjangkau masyarakat kecil. Di sinilah Pegadaian menghadirkan terobosan:
Tabungan Emas dengan modal mulai Rp10.000.
“Pegadaian ingin emas bisa diakses semua orang. Dari ibu rumah tangga, pelajar, sampai pekerja informal. Tidak ada lagi istilah investasi hanya untuk yang kaya,” jelas Damar Handoko, Deputi Komunikasi Perusahaan Pegadaian, dalam sebuah konferensi pers awal 2024.
Feminisme Interseksional: Keadilan Finansial untuk Semua
Konsep feminisme interseksional mengajarkan bahwa ketidaksetaraan dialami secara berbeda, tergantung gender, kelas, etnis, hingga lokasi geografis. Dalam keuangan, perempuan di pedesaan menghadapi hambatan berbeda dibanding pekerja perempuan di kota besar.
Tabungan Emas Pegadaian menjawab kebutuhan lintas kelompok ini.
Perempuan kepala keluarga bisa menabung sedikit demi sedikit tanpa tekanan besar.
Pekerja informal seperti ojek online atau pedagang kaki lima bisa menyisihkan penghasilan harian.
Mahasiswa Gen Z belajar berinvestasi sejak dini lewat aplikasi digital.
Komunitas desa mendapat akses ke produk keuangan tanpa harus ke bank konvensional yang sering jauh.
Dengan kata lain, Tabungan Emas bukan sekadar produk, tetapi gerakan keadilan finansial yang benar-benar inklusif.

Gen Z: Digital-Native, Tapi Minim Literasi Keuangan
Generasi Z (lahir 1997–2012) tumbuh dengan gawai di tangan. Mereka piawai mengelola akun media sosial, tetapi belum tentu paham cara mengelola uang. Survei OJK (2023) menunjukkan literasi keuangan masyarakat Indonesia baru 49,7%, meski tingkat inklusi keuangan sudah 85%.
Bagi Gen Z, Tabungan Emas punya tiga daya tarik utama:
Mudah dan digital – Semua bisa dilakukan lewat aplikasi Pegadaian Digital.
Aman dan terpercaya – Didukung BUMN dengan regulasi ketat.
Tujuan jangka panjang – Cocok untuk biaya pendidikan, pernikahan, atau modal usaha.
Menurut Sinta (21), mahasiswi di Yogyakarta, tabungan emas jadi jalan tengah. “Kalau nabung uang di dompet digital, sering kepake. Tapi kalau dalam bentuk emas, saya lebih disiplin karena susah dicairkan mendadak,” ujarnya.
Dampak Sosial: Dari Individu ke Komunitas
Pemberdayaan Perempuan
Arisan emas semakin populer. Di banyak daerah, ibu-ibu rutin menyetor Rp20.000 per minggu. Setiap bulan, mereka membeli emas 0,1 gram. Hasilnya bukan hanya aset berharga, tapi juga rasa solidaritas.
Kemandirian Pekerja Informal
Ojek online seperti suami Sri Wahyuni merasa punya “jaring pengaman”. Ketika anak sakit, emas bisa dicairkan tanpa bunga tinggi seperti rentenir.
Literasi Pedesaan
Pegadaian menggelar program edukasi keuangan di desa-desa. Materinya sederhana: bedakan kebutuhan dan keinginan, sisihkan sedikit penghasilan, lalu tabung dalam bentuk emas.
Gerakan Sosial Ekonomi
Jika ditarik lebih luas, menabung emas bisa dilihat sebagai gerakan kolektif. Ia membiasakan masyarakat berpikir jangka panjang, menyiapkan masa depan, dan keluar dari budaya “hidup hari ini saja”.
Pegadaian: Sejarah Panjang, Inovasi Baru
Berdiri sejak 1901, Pegadaian awalnya dikenal sebagai tempat “gadai barang” bagi rakyat kecil. Namun seiring waktu, perusahaan pelat merah ini terus berinovasi. Kini, Pegadaian bukan hanya soal gadai, tetapi juga investasi, pembiayaan UMKM, hingga layanan digital.
Program Tabungan Emas diluncurkan tahun 2015 dan langsung mendapat sambutan positif. Data Pegadaian 2024 menunjukkan:
Terdapat 6 juta rekening Tabungan Emas aktif, naik 18% dari 2023.
55% nasabah adalah perempuan, menunjukkan dimensi gender yang kuat.
Nasabah usia 18–30 tahun tumbuh pesat, menandakan Gen Z ikut aktif.
Rata-rata saldo memang kecil, tapi pertumbuhannya konsisten setiap tahun.
“Target kami bukan orang kaya. Justru masyarakat kecil. Karena satu gram emas yang mereka tabung, artinya adalah masa depan yang lebih terjamin,” tegas Nina Sulistyowati, Direktur Pemasaran Pegadaian.
Perspektif Kebijakan: Sejalan dengan SDGs
Program Tabungan Emas juga sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan (SDGs), khususnya poin:
No Poverty (1) → mengurangi kerentanan finansial masyarakat miskin.
Gender Equality (5) → memberdayakan perempuan dalam akses finansial.
Decent Work and Economic Growth (8) → mendukung pekerja informal.
Reduced Inequalities (10) → membuka akses keuangan bagi daerah terpencil.
Tak heran jika Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menempatkan Pegadaian sebagai mitra penting dalam Strategi Nasional Keuangan Inklusif (SNKI).
Konstruktif: Dari Data ke Solusi
tidak berhenti pada laporan masalah.
Tugasnya adalah membuka jalan solusi. Dengan menyoroti Tabungan Emas Pegadaian, menunjukkan bagaimana inovasi keuangan bisa menjadi jawaban konkret bagi kesenjangan sosial.
Narasi tentang Sri, tentang Sinta, tentang jutaan perempuan dan pekerja informal adalah bukti bahwa inovasi kecil bisa berdampak besar.
Gram Kecil, Dampak Besar
Nabung emas di Pegadaian bukan sekadar investasi pribadi. Ia adalah gerakan inklusif yang menjangkau lapisan masyarakat paling beragam: perempuan, anak muda, pekerja informal, hingga komunitas pedesaan.
Setiap gram emas yang ditabung membawa makna:
Ruang aman bagi perempuan untuk mandiri.
Harapan bagi Gen Z menata masa depan.
Perlindungan bagi pekerja informal.
Solidaritas bagi komunitas desa.
Di sinilah emas bukan sekadar logam mulia, melainkan simbol keadilan finansial dan kemandirian sosial. Gram kecil hari ini bisa jadi jalan besar menuju Indonesia yang lebih inklusif, progresif, dan berkeadilan.
























Discussion about this post