
Gi-media.com Jakarta – Di tengah derasnya perkembangan teknologi global, Kementerian BUMN menegaskan bahwa kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) bukan hanya milik korporasi besar. AI kini hadir di tangan anak-anak muda Indonesia, membawa solusi untuk persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: mulai dari membantu tunanetra bernavigasi, menjaga ketahanan pangan, hingga mendorong ekonomi kerakyatan.
Pesan itu ditegaskan oleh Sekretaris Kementerian BUMN, Rabin Indrajad Hattari, dalam ajang “Awarding Night – Grand Final Pitching Pikiran Terbaik Negeri” di Jakarta, Minggu (24/8).
> “Penting sekali bagi kita untuk menyadari bahwa teknologi sudah menjadi bagian dari hidup kita. AI bisa membentuk inklusi sosial, menghadirkan pemberdayaan, dan membuka ruang kolaborasi baru,” ucap Rabin.
Tiga Inovasi AI yang Menyentuh Kehidupan Nyata
Dari puluhan ide yang disaring, Rabin menyoroti tiga inovasi berbasis AI yang paling mencuri perhatian:
1. Peta Netra – Sebuah aplikasi berbasis smartphone yang menggunakan AI untuk membantu penyandang tunanetra mengenali arah jalan, rambu, maupun lingkungan sekitar. Aplikasi ini memanfaatkan image recognition dan voice assistant sehingga tunanetra bisa lebih mandiri.
2. TernakAja – Platform digital untuk peternak yang memanfaatkan AI dalam memprediksi pakan, kesehatan hewan, hingga potensi harga pasar. Tujuannya bukan sekadar meningkatkan produktivitas, tetapi juga memperkuat rantai ketahanan pangan nasional.
3. Kulkita – Solusi cerdas berbasis AI yang memantau kualitas penyimpanan bahan pangan. Dengan sensor dan analisis data, platform ini bisa mendeteksi potensi kerusakan stok lebih dini, sehingga mengurangi pemborosan dan menjaga harga tetap stabil di tingkat konsumen.
Menurut Rabin, hadirnya inovasi semacam ini membuktikan bahwa AI bukan hanya soal robot atau industri 4.0 berskala raksasa, melainkan alat pemberdayaan yang bisa menyentuh kehidupan masyarakat kecil.
Ekosistem Kolaborasi: Dari Ide ke Dampak Sosial
Pikiran Terbaik Negeri hadir sebagai sebuah ekosistem kolaborasi, mempertemukan inventor sosial dengan mentor, investor, korporasi, hingga regulator. Program ini merupakan hasil kerja sama antara Yayasan BUMN dengan ElevAte, dan tahun ini berhasil menyaring puluhan inovator muda dari berbagai daerah.
“BUMN punya dua fungsi: menciptakan keuntungan sekaligus menciptakan nilai sosial. Penciptaan nilai tidak melulu soal uang, tapi juga tentang kebermanfaatan,” ujar Rabin.
Dengan kata lain, inovasi sosial berbasis AI bukan sekadar proyek teknologi, melainkan jawaban terhadap isu krusial seperti kesehatan mental, kesehatan ibu dan anak, pengelolaan limbah berkelanjutan, hingga akses pendidikan dan pangan yang lebih adil.
Dukungan Konkret: Rp150 Juta untuk 20 Wirausaha Sosial
Tahun ini, sebanyak 20 wirausaha sosial terpilih sebagai pemenang Pikiran Terbaik Negeri 2025. Masing-masing mendapatkan pendanaan sebesar Rp150 juta untuk mengembangkan ide mereka agar berdampak lebih luas.
Pendanaan ini bukan sekadar hadiah kompetisi, melainkan bentuk investasi sosial dari negara untuk mempercepat transformasi inklusi digital. Harapannya, inovasi yang lahir dari program ini bisa menjadi embrio perusahaan rintisan (startup) yang mandiri, sekaligus solusi nyata bagi persoalan masyarakat.
Mengapa AI Penting untuk Inklusi Sosial?
AI kerap dianggap teknologi “dingin” yang hanya berkutat di laboratorium atau pabrik besar. Padahal, potensi sesungguhnya ada pada pemanfaatannya untuk kelompok rentan.
Di sektor kesehatan, AI bisa membantu menganalisis pola penyakit ibu dan anak di daerah terpencil.
Di sektor pendidikan, AI mampu menyesuaikan metode belajar sesuai kebutuhan siswa, termasuk bagi difabel.
Di sektor lingkungan, AI dapat memantau sampah plastik, mengukur emisi karbon, atau mengoptimalkan daur ulang.
Di sektor pangan, AI membantu petani dan peternak kecil agar punya akses informasi setara dengan pemain besar.
Dengan pendekatan inklusif, teknologi ini bisa menjadi jembatan antara kesenjangan sosial dan pemerataan akses.
Apa jadinya jika tunanetra bisa berjalan mandiri di jalan raya berkat AI? Atau jika petani kecil punya data pasar seakurat korporasi raksasa? Pertanyaan-pertanyaan itulah yang coba dijawab oleh generasi muda melalui Pikiran Terbaik Negeri.
Di tangan anak bangsa, AI bukan sekadar algoritma, melainkan alat untuk meretas ketidakadilan sosial.
Melalui Pikiran Terbaik Negeri 2025, BUMN menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak boleh berhenti di ruang rapat perusahaan besar. AI kini turun ke jalan, sawah, kandang, dan dapur rakyat kecil – memberi daya, harapan, dan peluang baru.
























Discussion about this post