Gi-media.com Jakarta — Momentum Idulfitri 1447 Hijriah dimanfaatkan Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia untuk memperkuat persatuan dan kontribusi kebangsaan melalui gelaran Halal Bi Halal yang berlangsung di Grand Mercure Jakarta Kemayoran, Minggu (19/4/2026).
Mengusung tema “Halal Bi Halal Sahabat Pergerakan dan Harlah PMII sebagai Momentum Konsolidasi Kebangsaan”,
acara ini sekaligus
menjadi refleksi Hari Lahir ke-66 Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang diperingati setiap 17 April.
Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh nasional dan pimpinan organisasi, di antaranya
Said Aqil Siradj, Nasaruddin Umar, serta Ketua Umum PB IKA PMII Fathan Subchi. Kehadiran para tokoh tersebut mencerminkan kuatnya jejaring alumni PMII dalam berbagai sektor strategis nasional.
Dalam sambutannya, Fathan Subchi menegaskan bahwa Halal Bi Halal bukan sekadar tradisi silaturahmi, tetapi juga ruang strategis untuk merawat nilai-nilai kebangsaan.
“PMII dan para alumninya memiliki tanggung jawab moral untuk terus menjaga persatuan, memperkuat moderasi, serta berkontribusi aktif dalam pembangunan bangsa,” ujarnya.
Sementara itu, Nasaruddin Umar menekankan pentingnya menjaga harmoni sosial di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjadikan Idulfitri sebagai titik balik memperkuat nilai toleransi, keadaban, dan persaudaraan.
Acara yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan ini juga menjadi ajang konsolidasi lintas generasi alumni PMII.
Dari kalangan akademisi, birokrat, profesional hingga aktivis sosial, seluruhnya dipersatukan dalam semangat yang sama: memperkuat peran strategis dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Selain silaturahmi, kegiatan ini juga diisi dengan refleksi perjalanan PMII selama 66 tahun dalam mencetak kader-kader intelektual yang berkontribusi bagi Indonesia. Dengan semangat “pergerakan”,
PMII diharapkan terus adaptif terhadap perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri.
Melalui kegiatan ini, PB IKA PMII menegaskan komitmennya untuk terus menjadi jembatan kolaborasi, memperkuat kohesi sosial, serta mendorong lahirnya gagasan-gagasan konstruktif demi Indonesia yang lebih maju, inklusif, dan berkeadaban.
Linna























Discussion about this post