Jakarta – Mayor Jenderal (Mayjen) Rudolf A. Butar Butar dikabarkan meninggal dunia pada Rabu, 19/2/2026. Almarhum mengembuskan napas terakhirnya di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta Pusat. Jenazah dimakamkan hari Sabtu (21/2/2026) di taman makam pahlawan Kalibata.
Suasana duka menyelimuti rumah duka. Sejumlah Karangan bunga ucapan belasungkawa dari berbagai kalangan, baik militer, tokoh masyarakat, maupun organisasi, terus berdatangan sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Mayjen Rudolf A. Butar Butar dikenal sebagai sosok prajurit yang tegas, berintegritas, dan memiliki loyalitas tinggi terhadap tugas. Dalam perjalanan karier militernya, beliau menunjukkan komitmen kuat terhadap disiplin, profesionalisme, serta semangat pengabdian tanpa pamrih.

Rekan-rekan sejawat mengenangnya sebagai pemimpin yang tidak hanya mengedepankan ketegasan, tetapi juga memiliki kepedulian dan perhatian terhadap anggota di bawah komandonya. Nilai-nilai keteladanan, keberanian, dan pengabdian yang diwariskan almarhum menjadi inspirasi bagi generasi penerus TNI dan seluruh anak bangsa.

Kepergiannya menjadi kehilangan besar, terutama bagi keluarga besar TNI yang selama ini mengenal beliau sebagai figur panutan.
Suasana khidmat terpantau pada saat prosesi pemakaman. Sejumlah petinggi TNI dan pejabat lainnya turut menghadiri prosesi pemakaman.
Kepergian Mayjen (Purn) Rudolf A. Bitar Butar bukan hanya menjadi duka bagi keluarga, tetapi juga kehilangan bagi bangsa Indonesia.

Jasa, pengabdian, dan keteladanan beliau akan selalu dikenang sebagai bagian dari sejarah panjang perjuangan para prajurit dalam menjaga kedaulatan dan kehormatan negara.
Selamat jalan, Mayjen Rudolf A. Butar Butar. Pengabdianmu akan selalu menjadi inspirasi. Semoga Tuhan Yang Maha Esa menerima segala amal ibadahmu dan menempatkanmu di sisiNya.
Putra kedua dari almarhum Mayjen Rudolf A. Butar Butar, Franky Ivan Ronaldo Butar Butar menyampaikan beberapa patah kata mewakili keluarga.
“Kepergian Bapak pada 19/2/2026 dan di makamkan pada 21/2/2026. Adalah pukulan yang sangat berat bagi kami, terutama bagi Mama. Tadi saya sempat berpikir dalam hati, “Jadi Mama nanti ditinggalin akhirnya apa?”
Rasanya sulit membayangkan rumah tanpa sosok Bapak. Untuk itu, saya mohon kepada keluarga besar dan sahabat-sahabat Bapak, tolong jaga Mama kami.
Tetaplah menjadi bagian dari kehidupan kami seperti selama ini Bapak menjaga persahabatan dan persaudaraan dengan begitu erat.
“Kami juga berharap hubungan baik yang selama ini terjalin dengan rekan-rekan beliau tetap terpelihara. Mungkin ada sahabat-sahabat dekat Bapak seperti Pak Hendro Priyono dan rekan-rekan seperjuangan lainnya yang selama masa hidup beliau begitu dekat dan setia.
“Bagi kami, kehadiran dan dukungan dari para sahabat Bapak adalah kekuatan tersendiri,” pungkas Frank-biasa dipanggil.
Kepada masyarakat dan keluarga besar, dalam situasi seperti sekarang ini, kami juga berharap agar kita semua tidak mudah terprovokasi oleh hal-hal yang tidak penting. Jangan mudah terpengaruh oleh isu atau penyebutan nama suatu badan atau pihak tertentu yang bisa menimbulkan kesalahpahaman.
“Bapak selalu mengajarkan kami untuk tetap tenang, tetap berpikir jernih, dan tetap berjuang dengan cara yang benar.
Bapak adalah sosok yang sangat disiplin. Beliau keras dalam prinsip, terutama soal aturan. Bahkan ketika saya ingin mengikuti Akabri, saat itu beliau sudah menjabat sebagai Wadan Kodiklat di Bandung. Tapi tidak ada perlakuan khusus,” kenangnya.























Discussion about this post