Gi media.com Setiap tanggal 18 Oktober, dunia memperingati Hari Menopause Sedunia (International Menopause Day). Peringatan ini diinisiasi oleh International Menopause Society (IMS) dengan kolaborasi bersama World Health Organization (WHO).
Apa itu menopause dan bagaimana gejala-gejalanya? Simak penjelasan di bawah ini:
1. Menopause: Definisi dan Waktunya
Menopause secara harfiah berarti “akhir dari menstruasi” dan merupakan titik alami dalam kehidupan seorang perempuan yang ditandai dengan berakhirnya siklus menstruasi secara permanen. Diagnosis menopause baru dapat dipastikan setelah seorang perempuan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut, tanpa adanya penyebab patologis lainnya.
Proses itu terjadi akibat penurunan alami hormon reproduksi, terutama estrogen dan progesteron, seiring dengan berhentinya fungsi ovarium. Mayoritas perempuan memasuki fase menopause antara usia 45 hingga 55 tahun, dengan rata-rata di usia 51 tahun.
2. Gejala Menopause yang Paling Umum dan Mengganggu
Penurunan kadar hormon memicu serangkaian gejala yang sangat bervariasi dari satu perempuan ke perempuan lain, baik dari segi jenis, intensitas, maupun durasi. Gejala ini sering kali menjadi fokus utama dalam diskusi Hari Menopause Sedunia karena dampak signifikannya terhadap kualitas hidup.
Gejala yang paling umum dan sering dikeluhkan meliputi:
– Gejala Vasomotor.
Sensasi panas mendadak (hot flashes) dan keringat di malam hari (night sweats). Ini adalah gejala yang paling khas, disebabkan oleh ketidakstabilan pusat pengatur suhu tubuh.
-Gangguan tidur.
Kesulitan untuk tidur (insomnia) yang sering diperburuk oleh keringat malam. Kurang tidur berkepanjangan dapat memengaruhi semua aspek kehidupan.
-Perubahan mood secara drastis.
Perubahan suasana hati yang drastis, lekas marah, kecemasan, bahkan depresi. Beberapa perempuan juga melaporkan kesulitan berkonsentrasi atau “kabut otak” (brain fog).
-Perubahan Genitourinari.
Kekeringan pada vagina, nyeri saat berhubungan seksual (dispareunia), dan peningkatan frekuensi buang air kecil atau infeksi saluran kemih (ISF). Kondisi ini dikenal sebagai Genitourinary Syndrome of Menopause (GSM).
-Perubahan fisik lainnya.
Perubahan fisik lainnya, seperti peningkatan berat badan, nyeri sendi dan otot, serta rambut yang menipis.
3. Risiko Jangka Panjang Pasca-Menopause
Menopause bukan hanya tentang gejala yang mengganggu dalam jangka pendek, tetapi juga memengaruhi risiko kesehatan jangka panjang. Karena estrogen memiliki efek perlindungan pada banyak sistem tubuh, penurunannya meningkatkan kerentanan terhadap kondisi kronis, seperti:
-Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah.
Estrogen membantu menjaga elastisitas pembuluh darah dan mengelola kadar kolesterol. Setelah menopause, risiko penyakit kardiovaskular meningkat secara signifikan, menjadikannya perhatian kesehatan utama bagi perempuan yang lebih tua.
-Osteoporosis.
Penurunan kadar estrogen mempercepat hilangnya kepadatan tulang, membuat perempuan sangat rentan terhadap osteoporosis dan patah tulang, terutama pada pinggul dan tulang belakang.
-Perubahan Metabolik.
Peningkatan resistensi insulin dan perubahan distribusi lemak tubuh yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2 dan sindrom metabolik.
4. Pentingnya “Lifestyle Medicine” (Kedokteran Gaya Hidup)
Sejalan dengan tema Hari Menopause Sedunia tahun ini, Lifestyle Medicine ditekankan sebagai fondasi utama dalam mengelola transisi ini. IMS menyoroti bahwa meskipun menopause adalah proses alami, pilihan gaya hidup sehari-hari dapat menjadi intervensi non-farmakologis yang sangat efektif untuk meringankan gejala dan mengurangi risiko penyakit kronis. Berikut langkahnya:
-Pola Makan Sehat.
Mengonsumsi makanan kaya kalsium dan Vitamin D untuk kesehatan tulang, serta makanan yang mendukung kesehatan jantung.
-Aktivitas Fisik.
Latihan beban (weight-bearing exercise) sangat penting untuk menjaga kepadatan tulang dan massa otot. Latihan aerobik mendukung kesehatan jantung dan mood.
-Tidur Berkualitas dan Manajemen Stres.
Teknik relaksasi, meditasi, dan kebersihan tidur yang baik dapat membantu mengatasi gangguan tidur dan perubahan suasana hati.
-Menghindari Zat Berisiko.
Membatasi atau menghindari alkohol dan kafein yang dapat memicu hot flashes dan mengganggu tidur.
Pendekatan holistik ini memberdayakan perempuan untuk secara aktif mengontrol kesehatan mereka selama dan setelah transisi menopause.
5. Mendorong Dialog dan Perawatan yang Setara
Hari Menopause Sedunia adalah kesempatan emas untuk mendorong dialog terbuka dan perawatan yang setara di seluruh dunia. Banyak perempuan masih ragu atau malu untuk membicarakan gejala mereka, atau mereka tidak mendapatkan informasi yang akurat dari tenaga kesehatan.
IMS, melalui peluncuran sumber daya seperti Buku Putih 2025 (The Role of Lifestyle Medicine in Menopausal Health) dan lembar fakta pendamping, berupaya memberikan panduan berbasis bukti. Inisiatif ini bertujuan untuk:
– Menginformasikan Perempuan: Memberikan pengetahuan yang memberdayakan tentang pilihan pengobatan dan gaya hidup.
– Mendidik Profesional: Melengkapi tenaga kesehatan dengan informasi terbaru untuk menawarkan perawatan yang personal, mencakup terapi penggantian hormon (HRT) bila diperlukan, dan intervensi gaya hidup.
– Memperjuangkan Kesetaraan: Memastikan bahwa semua perempuan, di mana pun mereka berada, memiliki akses yang sama terhadap informasi dan perawatan yang komprehensif untuk mendukung kualitas hidup mereka di fase menopause.
Dengan terus mengangkat isu tersebut setiap tanggal 18 Oktober, kita dapat mengubah menopause dari topik yang dibisikkan menjadi percakapan kesehatan yang terbuka dan didukung secara global.
























Discussion about this post