Jakarta, Agustus 2025 — Di sebuah lapangan terbuka di Depok, sekelompok anak muda mengenakan jubah merah, topi jerami, dan mengibarkan bendera bergambar tengkorak tersenyum. Bukan simbol kelompok radikal, bukan pula lambang organisasi terlarang. Itu adalah Jolly Roger, bendera kru Topi Jerami dari serial anime One Piece yang mendunia. Di belakang mereka, Merah Putih juga berkibar. Tapi posisinya tak lebih tinggi dari bendera bajak laut itu.
Fenomena ini menjadi sorotan publik di tengah peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Republik Indonesia. Muncul pertanyaan tajam: apakah nasionalisme telah bergeser bentuknya?
Ekspresi Baru di Era Digital
Anak-anak muda tak lagi berkumpul membuat gapura bambu atau lomba panjat pinang. Sebagian dari mereka sibuk menyiapkan cosplay dan membuat bendera komunitasnya. Seperti yang dilakukan oleh @StrawHatJakarta, komunitas penggemar One Piece yang kini memiliki lebih dari 15.000 pengikut di Instagram.
“Kami nggak anti Merah Putih, malah kami juga bawa. Tapi kami ingin menunjukkan bahwa semangat Luffy—berani, merdeka, lawan penindasan—juga cocok dengan semangat kemerdekaan,” kata Yoga, salah satu admin komunitas, saat ditemui di CFD Sudirman.
Menurut Yoga, bendera bajak laut bukan bentuk pembangkangan. Ia adalah simbol “kemerdekaan modern” versi mereka—bebas berekspresi, bebas berkarya, dan tetap mencintai tanah air.
Simbol Negara Vs Simbol Identitas Budaya
Namun, tak semua bisa menerima. Seorang veteran perang yang kami temui di Taman Proklamasi mengaku kecewa melihat anak muda lebih bangga membawa bendera asing.
“Apa mereka tahu, darah teman-teman saya tumpah untuk Merah Putih? Sekarang malah bendera kartun yang dikibarkan,” kata Pak Jatmiko, 79 tahun, dengan nada sedih.
Isu ini menyentuh hal mendasar: bagaimana kita memaknai simbol dalam masyarakat. Sosiolog dari UGM, Dr. Fitriani Azhar, menyebut bahwa ini adalah benturan antara simbol negara yang sakral dengan simbol komunitas yang populer.
“Bendera Merah Putih adalah simbol resmi kedaulatan. Sementara bendera One Piece adalah simbol identitas dan kebersamaan komunitas anak muda. Keduanya bisa hidup berdampingan, asal tahu batas,” ujarnya.
Dari Nasionalisme Konvensional ke Nasionalisme Kultural
Di era media sosial dan budaya pop, nasionalisme tidak lagi tampil dalam bentuk-bentuk klasik. Ia muncul dalam meme, dalam lagu remix, dalam ilustrasi anime yang memakai kain sarung dan peci. Bahkan, seperti pada kasus ini: dalam bendera bajak laut yang dikibarkan bukan sebagai penentangan, tapi bentuk perayaan.
Ketua MPR Ahmad Muzani menanggapi polemik ini secara bijak. Ia menyebut, ekspresi semacam itu adalah bentuk kreativitas yang tak bisa dimatikan.
“Saya kira itu ekspresi kreativitas, ekspresi inovasi, dan pasti hatinya adalah merah putih,” ujar Muzani di kompleks DPR RI.
Pernyataan ini menjadi penyejuk di tengah perdebatan daring yang sudah mulai melabeli anak muda sebagai ‘generasi tak tahu sejarah’.
Kita Tidak Kehilangan Nasionalisme, Kita Hanya Melihatnya Dalam Bentuk Lain
Apakah ini pertanda bahwa nasionalisme generasi muda sudah luntur? Atau justru kita yang belum siap menerima bentuk baru dari cinta Tanah Air?
Sejarawan Bonnie Triyana dalam tulisannya menyebut bahwa nasionalisme bukan benda mati. Ia bergerak bersama zaman.
“Ketika generasi tua mengibarkan bendera sebagai simbol perjuangan, generasi sekarang mungkin mengibarkan bendera anime sebagai simbol perlawanan terhadap tekanan zaman modern: tekanan sosial, pendidikan, pekerjaan, bahkan mental.”
Jadi mungkin, bendera One Piece itu bukan tandingan Merah Putih. Ia adalah jembatan. Untuk anak muda tetap bisa berkata: aku cinta Indonesia, hanya saja dengan bahasa mereka sendiri.
























Discussion about this post