Jakarta — Gi-media.com
Di tengah tekanan deforestasi, degradasi hutan, dan krisis iklim global, nama Puspa D. Liman menempati posisi penting dalam lanskap konservasi Indonesia. Sebagai Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, ia memimpin arah strategis Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan, sebuah program yang selama lebih dari satu dekade menjadi fondasi perlindungan keanekaragaman hayati hutan Borneo.
Di bawah kepemimpinannya, TFCA Kalimantan tidak sekadar berbicara tentang pelestarian alam, tetapi tentang bagaimana hutan, manusia, dan masa depan dapat berjalan beriringan. Hingga tahun 2020, TFCA Kalimantan telah mendukung 54 lembaga, mulai dari LSM, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), hingga perguruan tinggi, yang bekerja langsung di lapangan menjaga ekosistem hutan Kalimantan.
Fokus kerja TFCA Kalimantan diarahkan pada kawasan strategis seperti Heart of Borneo (HoB) dan Program Karbon Hutan Berau (PKHB). Dalam kurun waktu 2012–2020, berbagai capaian dicatat sebagai kontribusi nyata terhadap perlindungan dan pengelolaan sumber daya alam penting di Kalimantan, termasuk perlindungan spesies langka, penguatan ekosistem hutan, serta upaya mitigasi perubahan iklim.
Rekam perjalanan tersebut terdokumentasi dalam buku “Rekam Jejak: Potret Mitra TFCA Kalimantan”, yang menjadi cermin pendekatan kolaboratif yang selama ini dibangun. Buku ini merekam bagaimana konservasi tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan peningkatan mata pencaharian masyarakat sekitar hutan, pengelolaan sumber daya alam secara lestari, serta upaya penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan.
Bagi Puspa D. Liman, keberhasilan konservasi diukur bukan hanya dari luas kawasan yang terlindungi, tetapi dari keberlanjutan hidup masyarakat yang bergantung pada hutan. Karena itu, TFCA Kalimantan juga menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman, termasuk dalam pelaksanaan konservasi hutan dan pengembangan program REDD+ di Indonesia.
Pendekatan kepemimpinan Puspa D. Liman menempatkan KEHATI sebagai simpul kolaborasi nasional. Ia mendorong keterlibatan berbagai pihak—masyarakat adat, akademisi, organisasi masyarakat sipil, hingga pemangku kebijakan—dalam satu visi besar: menjaga hutan Kalimantan sebagai penyangga kehidupan dan penentu masa depan Indonesia.
Dengan rekam jejak yang konsisten dan visi jangka panjang,
Puspa D. Liman terus menegaskan bahwa konservasi hutan bukan agenda sesaat, melainkan kerja peradaban—yang menuntut keteguhan, kolaborasi, dan keberanian berpikir jauh ke depan.
























Discussion about this post