Gi-media.com Bogor — Perayaan Natal Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Bogor tidak hanya menjadi momentum ibadah dan sukacita rohani, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat persatuan lintas agama dan memperkokoh kerukunan sosial di tengah keberagaman masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Kharel Silitonga, M.Th, Ketua Departemen Organisasi Majelis Pusat GPdI, usai menghadiri rangkaian Perayaan Natal Bersama di Kabupaten Bogor.
Menurut Prof. Kharel, semangat Natal yang tercermin dalam kebersamaan seluruh elemen masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga keharmonisan sosial.
“Harapan kami, setelah perayaan Natal ini, persatuan lintas agama di Kabupaten Bogor semakin kuat, terjaga, dan berkelanjutan.
Bogor pernah menjadi percontohan kerukunan umat beragama, dan semangat itu harus kita hidupkan kembali,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Kabupaten Bogor memiliki rekam jejak panjang dalam membangun toleransi dan kerukunan.
Tercatat, Perayaan Natal Bersama TNI, Polri, Sipil, dan Gereja se-Kabupaten Bogor telah 12 kali diselenggarakan oleh Badan Kerja Sama Gereja (BKSG) Kabupaten Bogor.
Bahkan, pada tahun 2006, Kabupaten Bogor secara resmi dikenal sebagai Daerah Percontohan Kerukunan Umat Beragama di Provinsi Jawa Barat.
Namun demikian, Prof. Kharel menegaskan bahwa Perayaan Natal kali ini memiliki perbedaan yang sangat menonjol dibandingkan pelaksanaan sebelumnya.
“Perayaan Natal tahun ini sangat berbeda dan istimewa, karena panitianya terdiri dari pemimpin-pemimpin nasional dari berbagai agama. Ini bukan hanya kegiatan keagamaan, tetapi simbol kuat persatuan kebangsaan,” ungkapnya.
Sebagai salah satu pendiri Badan Kerja Sama Gereja (BKSG) Kabupaten Bogor yang hingga kini masih hidup,
Prof. Kharel mengaku memiliki ikatan emosional dan historis dengan perjalanan kerukunan di Bogor.
Ia melihat perayaan Natal lintas agama yang digagas FPK ini sebagai kelanjutan dari nilai-nilai luhur yang telah lama dibangun, namun dengan pendekatan yang lebih inklusif dan kontekstual dengan tantangan kebangsaan saat ini.
Ia menilai, suasana kebersamaan yang tercipta menunjukkan bahwa nilai kasih, toleransi, dan gotong royong masih menjadi fondasi kuat dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut tercermin dari keterlibatan berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah, tokoh agama lintas iman, hingga organisasi kemasyarakatan, yang hadir dan berbaur dalam satu ruang kebangsaan.

Prof. Kharel juga mengapresiasi inisiatif sosial berupa penggalangan dana untuk membantu masyarakat di Sumatera yang dilakukan di sela-sela acara.
Menurutnya, langkah tersebut membuktikan bahwa semangat Natal tidak berhenti pada simbol dan seremonial, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata yang menyentuh kebutuhan sesama.
“Inilah makna Natal yang sesungguhnya, ketika kasih diwujudkan dalam kepedulian dan saling membantu, tanpa memandang perbedaan latar belakang,” katanya.
Lebih jauh, ia berharap ke depan terjalin kerja sama yang lebih terstruktur dan berkelanjutan antara gereja-gereja dengan Pemerintah Kabupaten Bogor, tidak hanya dalam momentum keagamaan, tetapi juga dalam program sosial dan kebangsaan. Kerja sama tersebut,
menurutnya, dapat diformalkan melalui nota kesepahaman (MoU) yang memberi dampak langsung dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Jika gereja-gereja dan pemerintah berjalan bersama, saling menguatkan, dan memiliki komitmen yang jelas, maka kerukunan dan persatuan akan semakin kokoh. Kabupaten Bogor sangat berpotensi kembali menjadi contoh nasional dalam merawat keberagaman dan persatuan,” tegasnya.
Prof. Kharel pun menyampaikan harapan agar perayaan Natal lintas agama seperti ini dapat terus dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang, sebagai ruang dialog, persaudaraan, dan penguatan nilai kebangsaan.
“Perayaan Natal ini harus menjadi titik awal sinergi lintas agama, lintas institusi, dan lintas komunitas, demi mewujudkan Bogor yang damai, rukun, kokoh, dan menjadi teladan bagi daerah lain di Indonesia,” pungkasnya.














Discussion about this post