Dedi Setiadi (Dosen Univ MH Thamrin, Kontributor Banrehi).
Jakarta, Gi-media.com
,Indonesia sedang menuju Indonesia Emas 2045. Anak-anak dan remaja yang hari ini memenuhi ruang-ruang kelas kelak akan menjadi orang-orang yang menjalankan berbagai bidang kehidupan bangsa. Mereka akan menjadi guru, dokter, pengusaha, pemimpin, pekerja, peneliti, dan orang tua bagi generasi berikutnya. Karena itu, ketika kita berbicara tentang Indonesia Emas, kita tidak cukup hanya membayangkan Indonesia yang maju secara ekonomi dan teknologi. Kita juga perlu memikirkan apakah generasi yang akan mengisi kemajuan itu masih mengenal dan mencintai Indonesia.
Kemajuan memang penting. Kita ingin anak-anak Indonesia memiliki pendidikan yang baik, mampu bersaing dengan bangsa lain, menguasai ilmu pengetahuan, dan terbuka terhadap perkembangan dunia. Tetapi menjadi maju bukan berarti harus meninggalkan identitas sendiri. Justru ketika dunia semakin terbuka, seseorang membutuhkan akar yang kuat agar tidak mudah kehilangan arah. Dalam dokumen pembangunan jangka panjang nasional, peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dari perjalanan menuju Indonesia Emas 2045.
Menurut saya, cinta tanah air perlu dipahami dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan anak muda. Cinta Indonesia bukan sekadar hafal lagu kebangsaan, mengikuti upacara, menggunakan pakaian adat, atau memasang bendera ketika bulan Agustus. Semua itu baik, tetapi cinta tanah air seharusnya lebih jauh daripada simbol. Ia terlihat dari cara seseorang memperlakukan sesama, menjaga lingkungan, menghargai perbedaan, menggunakan ilmunya untuk kebaikan, dan memiliki kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di sekitarnya.
Generasi muda juga perlu memahami bahwa Indonesia bukan hanya Jakarta, Jawa, atau daerah tempat mereka tinggal. Indonesia adalah negara yang sangat beragam, dengan berbagai suku, bahasa, agama, budaya, tradisi, dan kondisi geografis. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk saling menjauh. Justru keberagaman itulah bagian dari kekayaan Indonesia. Pendidikan perlu membantu anak mengenal perbedaan bukan sekadar sebagai pengetahuan, tetapi sebagai pengalaman hidup yang mengajarkan mereka untuk menghargai dan hidup berdampingan.
Hal tersebut sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila yang dikembangkan dalam pendidikan Indonesia. Salah satu karakter utamanya adalah berkebinekaan global, berdampingan dengan gotong royong, kemandirian, kreativitas, nalar kritis, serta beriman dan berakhlak mulia. Kementerian Pendidikan menjelaskan bahwa Profil Pelajar Pancasila merupakan karakter dan kemampuan yang merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari peserta didik.
Menjadi generasi yang terbuka terhadap dunia juga tidak berarti harus kehilangan jati diri. Anak Indonesia boleh belajar bahasa asing, mengenal budaya negara lain, belajar dari kemajuan bangsa lain, dan bekerja dalam lingkungan internasional. Bahkan hal tersebut sangat diperlukan. Tetapi pada saat yang sama, mereka perlu tahu dari mana mereka berasal. Mereka perlu mengenal sejarah bangsanya, memahami budayanya, menghargai bahasa Indonesia, mengenal karya anak bangsa, dan memahami nilai-nilai yang membentuk kehidupan masyarakat Indonesia.
Tantangannya sekarang adalah dunia yang dihadapi generasi muda jauh lebih terbuka daripada generasi sebelumnya. Informasi dari berbagai negara dapat masuk ke kamar mereka melalui layar telepon. Mereka dapat mengikuti tren dari berbagai belahan dunia hanya dalam hitungan detik. Kondisi ini bukan sesuatu yang harus ditakuti. Justru anak perlu dibekali kemampuan untuk memilih. Mereka boleh mengenal dunia, tetapi harus mampu menentukan mana yang sesuai dengan nilai dirinya dan mana yang tidak. Terbuka tidak berarti kehilangan batas.
Cinta tanah air juga tidak berarti menganggap bangsa sendiri selalu benar. Anak muda perlu memiliki keberanian untuk mengkritik ketika melihat ketidakadilan, korupsi, kerusakan lingkungan, diskriminasi, atau persoalan sosial lainnya. Mengkritik bukan berarti tidak mencintai Indonesia. Justru kepedulian untuk memperbaiki keadaan merupakan salah satu bentuk cinta kepada bangsa. Nasionalisme yang sehat bukan nasionalisme yang menutup mata terhadap kekurangan, melainkan nasionalisme yang ingin melihat negaranya menjadi lebih baik.
Karena itu, generasi muda perlu memiliki rasa memiliki terhadap Indonesia. Rasa memiliki akan membuat seseorang tidak mudah bersikap masa bodoh. Ketika melihat lingkungan kotor, ia merasa ikut bertanggung jawab. Ketika melihat teman mengalami kesulitan, ia tergerak membantu. Ketika menemukan masalah di masyarakat, ia tidak hanya mengeluh, tetapi mencoba mencari solusi. Dari hal-hal kecil seperti inilah nasionalisme sebenarnya tumbuh. Cinta tanah air tidak selalu hadir dalam tindakan besar; sering kali ia justru terlihat dari kepedulian yang sederhana dan konsisten.
Keluarga dan sekolah mempunyai peran penting dalam menumbuhkan rasa tersebut. Anak tidak cukup hanya diminta mencintai Indonesia, tetapi perlu diajak mengenal Indonesia. Mereka bisa belajar melalui sejarah lokal, budaya daerah, cerita tokoh bangsa, karya seni, bahasa, kegiatan sosial, gotong royong, dan pengalaman langsung di masyarakat. Pendidikan seperti ini membuat Indonesia tidak berhenti sebagai nama dalam buku pelajaran, tetapi menjadi sesuatu yang mereka kenal, rasakan, dan miliki.
Bappenas pada April 2026 bahkan menempatkan penguatan karakter dan jati diri bangsa sebagai salah satu dari 20 upaya transformatif atau game changers dalam RPJPN 2025–2045. Bappenas menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, produktivitas, industrialisasi, dan infrastruktur, tetapi juga oleh nilai, etika, dan mentalitas masyarakat. Penguatan karakter tersebut dirancang melalui ekosistem yang melibatkan keluarga, pendidikan, masyarakat, media, dan berbagai lembaga lainnya.
Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang menjadi negara yang maju, tetapi tentang menjadi bangsa yang tetap mengenal dirinya sendiri di tengah kemajuan. Kita ingin generasi muda mampu berdiri sejajar dengan bangsa lain tanpa merasa rendah diri, tetapi juga tanpa merasa perlu meninggalkan identitasnya agar dianggap modern. Mereka boleh menjadi warga dunia, tetapi tetap tahu bahwa mereka adalah bagian dari Indonesia. Mereka boleh mengejar prestasi pribadi, tetapi tetap memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan bangsanya.
Maju tentu sebuah keharusan. Tetapi maju tanpa jati diri akan membuat kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Karena itu, pendidikan untuk Indonesia Emas perlu melahirkan generasi yang berani melihat dunia, tetapi tetap mengenal tanah tempat ia berpijak; mampu bersaing secara global, tetapi tetap menghargai keberagaman bangsanya; kritis terhadap kekurangan negeri ini, tetapi tidak kehilangan keinginan untuk memperbaikinya. Indonesia Emas bukan sekadar tentang seberapa jauh kita melangkah ke depan, tetapi juga tentang apakah kita masih tahu siapa diri kita ketika sampai di sana. Maju boleh, kehilangan jati diri jangan.(*)





Discussion about this post