• Redaksi gi-media.com
  • Lowongan Kerja
  • Undang Undang Pers
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Cyber
ADVERTISEMENT
  • Daerah
  • Nasional
  • Kriminal
  • Kesehatan
  • Politik
  • Internasional
  • Korupsi
  • Agama
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Ekonomi
No Result
View All Result
  • Daerah
  • Nasional
  • Kriminal
  • Kesehatan
  • Politik
  • Internasional
  • Korupsi
  • Agama
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Ekonomi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
  • Daerah
  • Nasional
  • Kriminal
  • Kesehatan
  • Politik
  • Internasional
  • Korupsi
  • Agama
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Ekonomi
ads ads ads
Home Hukum

DARI NEGARA GOTONG ROYONG KE REPUBLIK GOTONG NYOLONG

Muhammad Dimas Aditya by Muhammad Dimas Aditya
Oktober 19, 2026
in Hukum
0
0
SHARES
7
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Yudhie Haryono | CEO Nusantara Centre

Jakarta, Gi-media.xom, Dahsyat. 5 prestasi tingkat dunia didapat oleh kita pada tahun 2026. Pertama, juara satu negara termiskin di antara negara miskin di dunia (Kompas/2026). Kedua, juara satu negara produsen konglomerat dan oligark (Bisnis.com/2026). Ketiga, juara satu penduduk rentan miskin (64%) di dunia (WB/2026). Keempat, juara empat ketimpangan di Asean (Kontan/2026). Kelima, juara satu pengampun bisnis haram konglomerat dan oligark di Asean (NC/2026).

Jika menggunakan analisa fenomenologis, fungsionalis dan strukturalis maka ujung jawabannya adalah karena negara ini mengkhianati konstutusi. Sebab, bernegara itu berkonstitusi. Makin konstitutif kita bernegara, pasti makin sejahtera dan bermartabat di dunia. Begitupula sebaliknya. Yang jadi pertanyaan, konstitusi yang mana? Sebab kita punya dua konstitusi: yang asli dan yang palsu (penggantinya).

ADVERTISEMENT

Secara psikologis, bagi para pengkhianat, konstitusi asli adalah nasionalisme sempit. Sedangkan bagi para patriot, konstitusi palsu adalah penjajahan baru. Kedua agensi dan mazhab yang bertengkar sudah menghasilkan ledakan yang tidak tak terpikirkan sebelumnya: kelumpuhan dan sekaratnya bangsa yang tak sudah-sudah.

BeritaTerkait

11 jam ago

Lebih dari 789 Ribu Pekerja Terserap, Digdaya Indonesia Nilai MBG Perkuat Ekonomi Lokal

13 jam ago

Analis Politik Digdaya Indonesia: Realisasi MBG Rp153,19 Triliun Dibarengi Pembenahan Tata Kelola

15 jam ago

BarCode Studio Portable exe Windows 10 [x32-x64] Windows 11 Unlimited

20 jam ago

Kedua agensi dan mazhab percaya bahwa anak haram konstitusi palsu itu neoliberalisme. Ia juga ancient crime (kejahatan purba) yang terus menyempurna. Ia datang tanpa diundang, pergi harus diusir dan dimakamkan secepatnya.

Neoliberalisme adalah naluri ketamakan individu (basic instinct) yang terlembaga dalam banyak wajah. Ia hidup mengabadi dengan menciptakan kasta feodalisme dan fasisme mutakhir yang anti kemanusiaan.

Neoliberalisme membuat hari-hari kita makin gelap dan tercekik, keadaan semakin berat, situasi makin panas. Tak ada cahaya, hanya kobaran api yang menerangi, membakar dan mengabukan jalan rakyat di negeri ini. Semua pingsan dan siuman untuk sekarat kembali.

Konstitusi palsu yang beranak pinak neoliberalisme itu memproduksi republik super abnormal (sakit jiwa raga). Dan, obatnya hanya satu: kembali ke konstitusi asli yang normal, waras dan menang menghadapi zaman.

Kita dan Indonesia telah merasakan kedua konstitusi tersebut. Kini, kita harus bersikap negarawan. Buat dekrit kembali ke konstitusi asli dan adendum penyempurnaan lewat aturan terperinci yang menjiwai Pancasila.

Ini penting ditekankan sebab dalam hal konstitusi asli (yang anti kolonialisme, anti liberalisme dan anti komunisme), seringkali kita sibuk meragukan diri sendiri, putus asa dan ngetuprusin isu ecek-ecek serta tak percaya pikiran serta kejeniusan pribumi. Padahal, orang lain dan bangsa luar diam-diam kagum serta takut pada potensi dan kerja jenius kita semua serta karya asli (pancasila dan konstitusinya) yang luarbiasa dahsyatnya.

Memang, konstitusi bukan benda pusaka yang harus dipertahankan apa adanya. Tetapi, ia juga bukan dokumen suci yang boleh diubah sesuka penguasa. Ia harus menjadi konsensus abadi kebangsaan yang berpihak kepada kedaulatan rakyat. Maka, cara merubahnya hanya lewat pintu adendum yang selaras dengan ide inti agar sesuai zaman.

Karenanya, Pancasila dan Konstitusi harus ditempatkan dalam hubungan dualitas yang satu dan satu yang dua serta dijalankan dengan prinsip direktif yang efektif. Keduanya harus jadi kurikulum, habitus, warisan luhur dan kunci-kunci kenegarawan.

Untuk mengembalikan negara yang cenderung salah arah, salah kelola dan salah ujungnya di mana ada lima bukti di depan artikel ini, kita harus menempatkannya sesuai dengan cita-cita luhur bangsa Indonesia di awal kemerdekaan.

Berbagai upayanya adalah: Pertama, mendudukan dan menahami Pancasila sebagai isme dan falsafah pandangan hidup bangsa yang sarat dengan nilai-nilai luhur yang kebenarannya telah diyakini: baik secara religius maupun iptek.

Kedua, mendudukan dan memahami Pancasila sebagai ideologi negara (the science of ideas) yang bersumber kepada filsafat agama, kebijakan lokal dan kejeniusan nusantara.

Ketiga, mendudukan dan memahami Pancasila sebagai falsafah dasar negara, warganegara dan semesta sekaligus sebagai sumber tertib hukum, sumber kebijaksanaan dan sumber pengetahuan.

Pancasila sebagai filsafat negara menjelaskan bahwa dalam setiap aspek penyelenggaraan negara harus sesuai dengan nilai-nilainya. Sedangkan tafsirnya (konstitusi) harus menjadi basis penyelenggaraan negara Indonesia, sumber aturan dan alat analisa yang tidak tak tergantikan.

Keduanya harus menjadi alat untuk memastikan negara hadir bagi rakyat, bukan sebaliknya rakyat hanya menjadi objek dari kekuasaan dan penjajahan. Inilah negara gotong royong, bukan republik gotong nyolong.

Dus, keduanya harus ditempatkan sebagai teks penuntun agenda kebangsaan, agar mampu memperkuat kedaulatan rakyat, persatuan bangsa, supremasi hukum, kemandirian nasional, dan terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.(*)

Previous Post

Lebih dari 789 Ribu Pekerja Terserap, Digdaya Indonesia Nilai MBG Perkuat Ekonomi Lokal

Next Post

Muhammad Dimas Aditya

Muhammad Dimas Aditya

TerkaitBerita

Hukum

What Makes Modern Online Casinos So Popular

by saiful saragih
Oktober 19, 2026
0

What Makes Modern Online Casinos So Popular Online casino sites have become one of the most vibrant corners of the...

Read more

Gears of War: E-Day Crack Repack 2026

Oktober 19, 2026

WeBuilder Portable Only Windows 12 Premium Pro FileCR

Oktober 19, 2026

DI BAWAH PAYUNG ORTODOKSI EKONOMI

Oktober 19, 2026

Oktober 19, 2026

Lebih dari 789 Ribu Pekerja Terserap, Digdaya Indonesia Nilai MBG Perkuat Ekonomi Lokal

Oktober 19, 2026
Next Post

Discussion about this post

PT Gerbang Informasi Media

Facebook Twitter Google+ Youtube RSS

Cari Berdasarkan Kategori

  • Agama (76)
  • Daerah (2,494)
  • DPD/DPRD/DPR RI (13)
  • Ekonomi (293)
  • Fashion (25)
  • Hiburan (52)
  • Hukum (1,725)
  • Internasional (93)
  • Kesehatan (91)
  • Korupsi (54)
  • Kriminal (179)
  • Nasional (617)
  • Olahraga (53)
  • Otomotif (3)
  • Pendidikan (107)
  • Politik (121)
  • REDAKSI (307)
  • Sumut (1,072)
  • TNI/POLRI (200)

Hak Cipta © 2021 Gerbang Informasi Nusantara

No Result
View All Result
  • Redaksi gi-media.com
  • Lowongan Kerja
  • Undang Undang Pers
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Cyber

Hak Cipta © 2021 Gerbang Informasi Nusantara